agastrigi

Archive for April, 2010|Monthly archive page

Di Dasar Segalanya

In Uncategorized on April 10, 2010 at 6:10 pm

Saya baru saja menyaksikannya kemarin di Theater Salihara. At a Very Bottom of Everything. Film yang bagus, diambil oleh kisah nyata langsung dari sutradaranya Paul Agusta, dan sangat menyentuh. Paul agak sedikit memaksa para penonton untuk mengerti apa yang disampaikan dari film keduanya ini. Tidak hanya ada seorang narator yang tampil di layar (Kartika Jahja) namun ada sebuah penggambaran secara visual, musikal, sistematis yang mendalam oleh lakon aktor dan aktris di dalam film tersebut.

Film ini bertujuan memperkenalkan kepada kita perjuangan seorang perempuan muda yang mengidap bipolar disorder ( dikenal juga dengan sebutan manic depression) dimana dia berjuang untuk melawan dorongan bunuh diri. Kita diajak untuk masuk ke dua dunia yang dimana dia ceritakan secara verbal dan melalui visual agar kita mengeri apa yang terjadi di dalam otaknya (dunia lainnya).

I love the script. Every single words on this movie was great. Enough said. Thanks Paul. *clapping*

Advertisements

The Missing

In Uncategorized on April 9, 2010 at 1:43 am

Saya tidak ingin bercerita panjang lebar mengenai hilangnya Fingkan. Sekarang sudah hari ke empat, lama-lama saya yang harus belajar untuk ikhlas. Yes, that’s my Motorola L-7 hehe. Hilang di bus kopaja 86 jurusan Pondok Indah – kondisi bus penuh sesak – dan tersadar saat tiba di rumah.  Fyi, saya sempat menelfon dan begging2 si maling untuk mengembalikannya kepada saya. Tapi, nihil.

Oke, kalo dikalkulasikan. Henfon itu kalau dijual seharga 100.000: ga tahan lama batrenya,  chasing yang baret-baret, chasing yang sulit dicari, dan saya beri unlock code di beberapa application. It means, saya bukan mendambakan henfon itu karena harganya. Tapi memorinya.

Sedikit mengenang fingkan:

– Seminggu setelah beli handphone itu, jatoh ke kloset kamar mandi Gonz di saat graduation. Dan, paniknya saya disaat menjelang UAN masih ngurus ‘biaya rawat inap’ Fingkan yang masuk ke reparasi motorola.

– Beruntunglah, henfon tersebut masih bisa diselamatkan walau ada white-mark di bagian kanan LCD (padahal kasusnya nyemplung)

– Sms dari jaman dahulu kala bersama A masih tersimpan. Hehe, forgive myself for breaking the rule, i  don’t want erase them all 😦

Okay, Think Possitive Now, A! :

– Bertepatan sekali dengan saya yang telah mendapatkan kerjaan di Kompas untuk sementara waktu. Lambat laun, rejeki bisa membeli my dream cellphone with my own effort. wish me luck, guys 🙂

– Kata Vinci, “Maybe Fingkan wants you to move on!”

– Kata Anits, ” I think behind this cellphone-losing pasti ada tujuannya.. God wants you to move on. you don’t want to stir things, God will stir it for you.. sometimes we have to learn the hard way when we’re being stubborn, stri..”

PS: I miss you, FINGKAN. I MISS EVERYTHING ON IT. And you know, I miss you, too.

Tubuhnya membiru. Tragis.

In Uncategorized on April 2, 2010 at 5:58 pm

Seorang kawan lama, tiba-tiba datang menemui saya menceritakan kesulitan hidup yang dialaminya. Dia mengabarkan dirinya tidak lagi tinggal dirumahnya. Jauh dari kehidupan dirinya yang saya kenal baik-baik saja namun ternyata air mata menggambarkan semuanya dari sudut matanya yang tegar. Oke, saya mengerti.

Dia menunjukkan bekas luka memar pada tubuhnya yang disebutkannya baru saja berlangsung 3 hari yang lalu. Masih memerah, masih nyata dan saya begitu jelas merasakan sakitnya. Saya biarkan dia berbicara selama kurang lebih 1 setengah jam.

Hingga malam larut dan saya lupa untuk pulang ke rumah. Baru kali ini saya mengerti dan bersikap pro terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga. Selama ini yang terlintas di pikiran saya adalah bodoh saja mereka yang bisa bertahan dalam situasi yang jelas2 merugikan dirinya. Bertahan dalam kubik yang mereka sebut itu rumah namun suasana yang tidak jauh dari neraka. Menelan manis dari setiap kepahitan. Dan berkali-kali memperingatkan pikiran agar berteman dengan hati. Ini berarti, ia selamat.

Satu pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan, namun telah terjawab ” Kenapa bisa bertahan dalam situasi seperti ini? Tinggal datang saja ke komnas HAM lalu mengadu!”

Itu dia. Dia tahu persis pasal-pasal mengenai HAM yang bisa menggiringnya merebut kembali hak-haknya. Dia dapat dengan mudah melapor tanpa hambatan apapun. Tetapi seseorang yang berbuat kekerasan padanya justru yang memiliki jabatan penting yang kita sebut pihak yang berwajib. , ” Kalau aku lapor, itu berarti semua orang akan tahu yang apa yang terjadi. Itu sama aja mencoreng nama keluarga sendiri. Apalagi status pekerjaan mama yang bukan orang biasa

Satu luka di punggung yang tak sempat diurut akibat pukulan gantungan baju di pagi-pagi buta; cacian murahan yang sering dilontarkan setiap hari; perbedaan nyata antara sahabatku dengan kedua adiknya; kehadiran ayah yang selalu mengalah dengan istrinya; dan masih banyak lagi..

Pilihannya tidak lagi seperti hitam dan putih atau baik dan buruk. Keduanya terlihat sama. Sahabatku, dia memilih untuk tidak memilih hingga detik ini.

Entah sampai kapan.

Dua puluh dua tahun ia merasakan semua ini. Entah sampai kapan seorang manusia tega berbuat kekerasan dalam mendidik seorang anak. Entah sampai kapan seorang anak harus di dera untuk menjaga nama baik ibunya dan kelurganya. Entah sampai kapan..

“America is not bad, k?”

In Uncategorized on April 2, 2010 at 5:47 am

Hari kamis kemarin setelah pulang dari gereja dan merayakan Kamis Putih, mobil  kembali melaju ke arah kemang hendak membeli beberapa ayam di KFC. Malam itu, sudah pukul 11 dan terutama saya yang sudah sedari tadi meraung-raung belum makan siang ditambah mesti kebagian jadi seksi dokumentasi di gereja.

TOO CROWDED. Damn long weekend. Sepanjang jalan kemang raya banyak anak-anak bermuka polos yang berdandan seperti layaknya orang dewasa berdiri bersenderan di cap mobil – entah mobil keberapa orang tuanya.  Club malam – Kemang hari itu penuh dengan para ABG sedang menikmati liburan long weekend-nya yang sebenarnya baru saja dimulai.

Kota ini selalu membuat saya terkesan dengan manusia-manusianya. Nah, setelah sampai di KFC dan mendapatkan 4 jatah ayam buat orang rumah plus chicken cream soup untuk di makan di mobil, sembari memberi ‘Pertolongan Pertama’ karena telat makan.

Sesampainya dimobil, tepat didepan hadapan saya ada beberapa anak jalanan yang sedang duduk-duduk entah apa yang mereka hendak lakukan. “Kita diem sebentar yah” begitu kata kakakku setelah saya tanya alasannya tidak beranjak dari KFC. Sepuluh menit berlalu, dua orang warga asing menghampiri mereka dengan membawa 1 mangkok besar ala khas KFC yang berisi ayam dan nasi di dalamnya.

Salah satu warga asing yang berwarga negara Amerika memotret mereka semua bersama temannya yang berwarga negara Thailand.

“Okay, this is for you all. Jangan berebut, okay?” ujarnya dengan aksen bule-nya.

Anak-anak jalanan tersebut kemudian menghampiri si Pria bule Amerika ini dan menyalaminya satu persatu.

“America is not bad. Me is American and She’s Thailand. We’re not bad, okay?” kembali ucap Pria bule itu dan disambung oleh temannya dan mengatakan “Nice to meet you all”.

Setelah menyaksikan itu, saya mulai beranjak pulang dan bertanya-tanya. Kata-kata yang diucapkan si Pria Bule — anak-anak jalanan yang diminta duduk untuk menunggu kemudian dibelikan KFC. Apapun motivasinya, mereka orang baik. Kedua warga asing tersebut — baik.

Sekarang bukan jamannya men-judge orang hanya karena SARA. Dari mana mereka berasal, apa agamanya, dari suku mana. Tidak ada pengkotak-kotakan selama saya dan yang lain bernafas sama-sama melalui hidung, berpijak di bumi yang sama dan dibawah langit yang sama.

Yes, America – Indonesia – Thailand and other countries were not bad. Yang nyata adalah orang baik dan orang jahat selalu ada di dalamnya.  Keep your mind wide open, kind people!

Alrighty, now Happy Good Friday! God bless us monday to sunday! ciao.