agastrigi

Tubuhnya membiru. Tragis.

In Uncategorized on April 2, 2010 at 5:58 pm

Seorang kawan lama, tiba-tiba datang menemui saya menceritakan kesulitan hidup yang dialaminya. Dia mengabarkan dirinya tidak lagi tinggal dirumahnya. Jauh dari kehidupan dirinya yang saya kenal baik-baik saja namun ternyata air mata menggambarkan semuanya dari sudut matanya yang tegar. Oke, saya mengerti.

Dia menunjukkan bekas luka memar pada tubuhnya yang disebutkannya baru saja berlangsung 3 hari yang lalu. Masih memerah, masih nyata dan saya begitu jelas merasakan sakitnya. Saya biarkan dia berbicara selama kurang lebih 1 setengah jam.

Hingga malam larut dan saya lupa untuk pulang ke rumah. Baru kali ini saya mengerti dan bersikap pro terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga. Selama ini yang terlintas di pikiran saya adalah bodoh saja mereka yang bisa bertahan dalam situasi yang jelas2 merugikan dirinya. Bertahan dalam kubik yang mereka sebut itu rumah namun suasana yang tidak jauh dari neraka. Menelan manis dari setiap kepahitan. Dan berkali-kali memperingatkan pikiran agar berteman dengan hati. Ini berarti, ia selamat.

Satu pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan, namun telah terjawab ” Kenapa bisa bertahan dalam situasi seperti ini? Tinggal datang saja ke komnas HAM lalu mengadu!”

Itu dia. Dia tahu persis pasal-pasal mengenai HAM yang bisa menggiringnya merebut kembali hak-haknya. Dia dapat dengan mudah melapor tanpa hambatan apapun. Tetapi seseorang yang berbuat kekerasan padanya justru yang memiliki jabatan penting yang kita sebut pihak yang berwajib. , ” Kalau aku lapor, itu berarti semua orang akan tahu yang apa yang terjadi. Itu sama aja mencoreng nama keluarga sendiri. Apalagi status pekerjaan mama yang bukan orang biasa

Satu luka di punggung yang tak sempat diurut akibat pukulan gantungan baju di pagi-pagi buta; cacian murahan yang sering dilontarkan setiap hari; perbedaan nyata antara sahabatku dengan kedua adiknya; kehadiran ayah yang selalu mengalah dengan istrinya; dan masih banyak lagi..

Pilihannya tidak lagi seperti hitam dan putih atau baik dan buruk. Keduanya terlihat sama. Sahabatku, dia memilih untuk tidak memilih hingga detik ini.

Entah sampai kapan.

Dua puluh dua tahun ia merasakan semua ini. Entah sampai kapan seorang manusia tega berbuat kekerasan dalam mendidik seorang anak. Entah sampai kapan seorang anak harus di dera untuk menjaga nama baik ibunya dan kelurganya. Entah sampai kapan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: