agastrigi

Attraversiamo!

In Uncategorized on November 3, 2010 at 3:05 pm

Dengan bertuliskan  nama hotel yang kami tempati, si pemilik kaki ini adalah sahabat yang menemani saya menghabiskan waktu di Bandung selama 34 jam. Awalnya kami berniat datang ke sebuah acara festival musik blues yang disponsori oleh suatu pabrik rokok. Namun, dewi fortuna tidak memberikan kesempatan kepada kami untuk datang secara GRATIS. Haha. Sehingga, kami harus menyusun rencana lain. Nggak masalah sih,’ toh kita nggak ngerti blues juga sebenernya..hehe.

Pada awalnya, memang kita hanya ingin ketemuan. Soalnya, hari-hari sebelumnya selalu berakhir dengan kalimat, “Hmm.. next time yah”. Kali ini, hari dimana kita bertekad tidak ada kata BESOK.

Lucunya, apa yang terjadi dengan saya saat ini tidak jauh-jauh dari  apa yang terjadi saat itu 16 Oktober 2010 – 17 Oktober 2010. Sebelum saya cerita lebih jauh ke sesuatu yang kebetulan itu,  pelarian ke Kota Kembang ini membawa banyak pelajaran bagi saya. After all, terimakasih ya Servincia Kamaputri for a lovely random weekend!

***

“Finally Bandung!” begitulah yang terucap dalam hati ketika pandangan mata dari arah  kaca kanan mobil mulai disapa dengan kebun Teh Walini, Bandung. Saya suka kota Bandung. Alasannya cukup simple, udaranya lebih segar dibanding Jakarta. Mungkin karena Bandung jarang ada bus kota dengan asap knalpot yang mengepul. Aduh, kalau kalian pernah ke Terminal blok M, mungkin bernasib sama seperti saya. Menahan nafas lebih baik dibanding harus menghirup asap knalpot yang menyembul dari pintu masuk bus.

Kembali ke topik awal. Ketika di dalam perjalanan ke Bandung, saya menemukan buku ini di balik jok mobil. THE NAKED TRAVELER 2 , karya Trinity. Buku kepunyaan si pemilik sendal ini saya embat hingga ke kamar hotel. Setelah iseng membaca bab pertama buku itu, saya tersenyum melihat tulisan ini, ”When was the last time you did something for the first time?”. Ya, mulailah diri saya bertanya ke diri sendiri seperti itu. Bila itu juga yang nyangkut dikepalamu dan sudah tidak bisa menjawabnya. Berarti jawabannya, kalian harus mulai melakukan sesuatu yang baru (lagi).

Singkat kata, buku ini sangat menarik. Pengalaman menjelajahi dunia bukanlah sekedar mimpi belaka. Jalan-jalan ala backpacker tidak semata-mata hanya pupus ditengah jalan karena masalah faktor U (re: uang). Dari cerita mbak-mbak kantoran yang memiliki passion sebagai backpacker dunia ini, saya jadi tahu lebih banyak, meyakini lebih banyak, dan bermimpi lebih banyak. Toh, ada pepatah mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma”. Hihi..

****

Pemilik sepatu ini sangat inspiratif. Melihat isi blognya membuat saya ingin membuat satu posting-an yang sama dengan konsepnya. If you believe that shoes represents people’s character, you must check out her blog.

It’s amazing! http://www.mykindofperson.blogspot.com/

Saya tidak kenal dengannya. Hmm, jika memang dunia itu sempit, mungkin suatu hari nanti saya bisa bicara langsung dengannya, “Hallo Nasta, saya Astri. Bolehkah sepatuku berpose bareng dengan sepatumu?” Hehhe..

Well, dalam salah satu postingannya, Nasta pernah menulis seperti ini, ” Memang sekali-kali kita perlu keluar dari dunia kita dan melakukan hal-hal yang random” Yup. Selama berada di Bandung, saya dan teman saya melakukan hal-hal yang random. Dari hal mencari makan yang berujung dengan menelfon 14022 sampai akhirnya nonton bioskop di sebuah mall yang  kebetulan bersebelahan dengan hotel tempat kami tinggal.

***

EAT, PRAY, LOVE. Yes, sebuah film karya Ryan Murphy ini akhirnya saya tonton juga. Sama seperti orang Indonesia umumnya,  saya pun digeluti rasa penasaran “Seperti apa negara saya di film sekelas Hollywood yang dibintangi oleh Julia Roberts ini?”

Banyak yang bilang, film ini terlalu membosankan. Ya, mungkin karena tidak ada konflik yang berarti yang disajikan di film ini. Ceritanya standar, tentang penemuan-penemuan jati diri dari sebuah perjalanan. Satu yang cukup menarik adalah ketika ia berhasil memaafkan dirinya sendiri, atas beberapa kegagalan yang dihadapi sebelumya, termasuk kegagalan pernikahannya.  Hmm, tentu alasan saya mengatakan film ini adalah cukup baik ternyata dipertanyakan oleh banyak orang.

Saya tidak mau banyak berkomentar mengapa film ini saya anggap bagus. Selain karena faktor kebudayaannya yang menggelitik, film itu sangatlah… saya.

Well, I wanted to share with you 8 little gems I took home from it. These are all lines from the movie that spoke to me for some reason. My thoughts about each are in the italics.

1. “But who for?” “For you, Liz.”. When buying lingerie, you don’t have to buy it for anyone but yourself. Beautiful things can just be for you. It’s okay to enjoy them da sola.

2. “You must select your thoughts for the day like you do your clothes.” Take control of the words you speak to yourself. Choose them as deliberately as you do your pants and shoes.

3. “God dwells within you, as you.”He is not interested in your performance. He would rather you be a second rate version of yourself than a first rate version of somebody else. You do not need to be anything but who you are, for Him to love you.

4. “Even smile in your liver”. Create a practice of happiness deep down into your organs.

5. “The only way to heal is to trust”. And the only way to trust again is to forgive. Forgiveness of self and others is the door through all of our greatest barriers.

6. “Sometimes to loose balance in love is part of living balance in life.” To recite my favorite line from the Moulain Rouge,”The greatest thing we can ever learn is just to love and be loved in return.” And love  requires sacrifice. But knowing who is worthy of that kind of sacrifice is true wisdom.

7. “Go ahead. Run away from me. But you are running away from all the great possibilities of your life.This is not just the words of handsome Javier Bardem in the film… I think God spends a lot of his time saying kind of the same thing to us.

8. “Attraversiamo.” Let’s cross  over. It’s time to take the risks that will grow us into the people we are destined to be.

***

Hmmm, tidak usah nunggu saya sampai colongan curhat, tentu kalian pernah merasakan saat menonton film sambil cengangas-cengenges sendirian karena film itu jadi buat kalian seperti “ngaca”. Haha.. Now, how about you? What are your thoughts about Eat, Pray, Love, the movie or the book?

Setelah petualangan saya dengan pemilik Sendal Hotel ini secara random, besoknya saya mulai menemukan beberapa kebetulan lainnya. Kebetulan – kebetulan itulah yang membuat saya berfikir bahwa, “Everyday may not be a good one, but there is good in every day”.

Karena, hidup itu penuh misteri. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang kita anggap sebagai kemalangan, justru sebaliknya, adalah keberuntungan. In the mean-time, please sit back, relax and enjoy the ride! Attraversiamo!

  1. hello… 🙂 terimakasih ya mau mampir di blog saya…

  2. hihiih.. love it darling (:

    kakinya servincia gak bagus konstruksinya. hahahahahaha
    *ngacir*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: