agastrigi

Archive for December, 2010|Monthly archive page

Surat Untuk Firman Utina

In Uncategorized on December 28, 2010 at 4:26 pm

Saya terharu membaca ini. Ya, ini adalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang pengocek bola, E.S. Ito (Novelis Negara Kelima dan Rahasia Meede) – twitter: @es_ito . Semoga saja, Firman Utina dan kawan-kawan dapat mengecap manis rasa tinta di surat ini. Sehingga tanggal 29 Desember nanti, mereka bisa bermain tanpa memikirkan ‘urusan’ apapun. Saya jadi teringat film The Last Samurai. Nobutada pernah mengatakan ini kepada Nathan Algren disaat dia tengah belajar samurai.

Mind the sword, mind the people watch, mind the enemy, too many mind. Don’t mind!”

Kita yang seharusnya belajar banyak dari sebuah pertandingan Final AFF kali ini. Pemenang sejati tidak terletak pada kalah atau menang dari 90 menit di lapangan hijau besok malam. Pemenang sejati hanya perlu membuktikan itu kepada dirinya sendiri. Dan hanya ditujukan kepada satu hal, yaitu rasa takut.

***

SURAT UNTUK FIRMAN UTINA

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi.

Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri.

Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola.

Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara.

Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Advertisements

Everybody is a teacher: “I want to teach children not to litter.”

In Laporan pandangan mata on December 13, 2010 at 10:23 am

Tiara Karina Pandiangan,Six-Year-Old Environmentalist

If a 6-year-old girl called you out for littering, how would you feel? Probably deeply embarrassed at first. Tiara Karina Pandiangan may look too cute to scold anyone, but she is serious about saving the environment and will call you out if your trash fails to find the bin. She’s got 600 pins to prove it. Today, Tiara explains what motivates her, tells us why we shouldn’t litter and reveals why she would never have a pet turtle.

What are you doing here in Menteng Park today?

I’m here for an interview.

I see. And you brought pins and stickers, too.

Yes, I’m going to hand them out. I give people a sticker and a pin and I ask them not to litter. Once, I saw a kid drop some trash on the ground and I shouted from my house, ‘Hey, don’t litter!’

Does anyone ever get upset when you approach them? Do they ever say that it’s none of your business?

Never. Sometimes I don’t say anything. I just pick up the trash and show them the trash can. The other day, I was at a park near my house and I noticed there was trash on the grass. I want to make a sign and put it up in the park so people know not to litter.

You have two kinds of pins. Can you tell me what they say?

It says ‘Don’t Litter. Small Actions, BIG Changes.’ This one says the same in Indonesian. ‘Jangan Nyampah, Dong!’ I’m going to make more pins with my designs. The next batch will say ‘Bin It, Don’t Throw It.’ That one is for people who roll down their windows and throw trash out of their car.

Who do you give the pins to? Strangers?

Yes, strangers, so they know that we shouldn’t litter.

Why is it important to teach people not to litter?

Because it could destroy the earth. If that happens, we will be extinct, and I don’t want that to happen, right? So we have to look after the earth, take care of it.

What do you think of Jakarta? Do you think there is a lot of trash in the city?

In Rasamala [a neighborhood in South Jakarta], there’s usually a lot of garbage. It’s everywhere, even though there are plenty of trash bins.

So you’re running this campaign alone?

Yes. Maybe there are people who would be willing to help.

Are your friends at school like you?

When my friends are with me, they put the garbage into the bin. But other kids litter if they don’t know me.

Do you think there are many other kids running anti-littering campaigns like you?

I don’t think most kids get involved in campaigns like this, but I had to start a campaign to urge people not to litter so that the earth won’t be destroyed.

What made you want to start helping the environment?

My mom once showed me a reusable bag, something that can be used again and again that we don’t throw away. I have a bag made of Sunlight pouches. Sunlight is for washing the dishes.

You also carry a Winnie the Pooh bag with you. What do you use it for?

I use this bag when I pick up rubbish, but I can use something else. We must ‘reduce, reuse, recycle, replace.’

Do you think your campaign will be a success?

I’m sure it will be because it’s time to be successful. Plus, I have a lot of pins and stickers here.

Can you tell us about the T-shirt you’re wearing?

I’m wearing a rhino T-shirt. I also have other T-shirts but I’m not wearing them today. I have an orangutan one and a WWF shirt, but I’m not wearing them.

You also care about animals, don’t you?

Yes. Oh, and I also have an elephant T-shirt. An elephant that can paint. It says ‘Save the Elephant’ on the front. That’s the Sumatran elephant.

You are also a member of WWF. What does WWF stand for?

World Wildlife Fund. We have to help animals that are almost extinct. We save turtles so they won’t be extinct like dinosaurs. Where’s my turtle book? [Finds it in her bag and starts reading.] Let’s save the turtles so they wont be extinct like the dinosaurs.

For your birthday this year, I heard you ran a campaign to save baby turtles.

By the time I grow older, they will be gone. Let’s be friends with turtles. We should not spill oil or throw garbage, so they won’t become extinct. In Indonesia, we have olive ridley and green turtles.

Have you seen turtles in the wild?

Only at SeaWorld. And I’ve seen the tukik [hatchlings] on TV.

Do you want a turtle as a pet? If you could keep one at home, would you?

No, because it’s not right to take turtles from the wild. Later it might die.

Jakarta has many topeng monyet [masked monkey performances]. How do you feel when you see them?

If people keep taking monkeys from the forest, they will end up like the orangutan. I feel sorry for them, they belong in the wild.

Titi, when you grow up, what do you want to be?

A teacher. I want to teach children not to litter.