agastrigi

Pencitraan

In Uncategorized on April 18, 2011 at 1:23 am

08: 22 Am

Hari ini berhasil ngebuat mata melek sampai pukul 8 dikarenakan harus ngerjain tugas akhir. Ajaibnya saya sama sekali nggak bikin kopi untuk membuat mata ini kuat mantengin layar komputer. Jadi, berbagai aktivitas yang gila pun terjadi di jam-jam bebas dini hari tadi. Mulai dari buat martabak alakadarnya, karaoke buat pemanasan konser, joget-joget  sambil dengerin lagu  rock sampai berhenti pada satu posting-an yang membuat saya bener-bener melek mata dan pikiran.

Kalau mau dikaitkan dengan thesis saya, bentuk dari postingan ini memang mirip sebuah thesis mini. Hehe, penasaran kan? Baca sendiri deh..


Begini ceritanya,

Ketika teman-teman saya di sini mulai bertanya-tanya dan mengklaim bahwa saya seorang social networking freak, karena saya memiliki semua account social networking (padahal cuma FB, twitter, blogspot, tumblr, Foursquare, serta account keartisan berlabel (namasaya).com belaka) dan juga rajin meng-update status-status dari penting maupun tidak…maka saya pun mulai tergerak untuk mengamati dan menganalisa. Lalu saya pikirkan dan kaji berulang-ulang. Ini kebiasaan buruk saya sejak balita: memikirkan hal tidak serius dengan sangat serius, dan memikirkan hal serius dengan sangat tidak serius. Ya, saya pun meluangkan waktu untuk menyelidiki hal ini disela-sela kesibukan saya sebagai pelajar, model videoklip (yang saya bikin atas keinginan sendiri), pengamat fashion ibu-ibu, penganalisa sepatu bapak-bapak, pembuat camilan untuk anakmuda, dan tentu saja profesi utama saya sebagai drama queen.

Penelitian pop culture saya kali ini akan saya beri judul:

“Fenomena Social Networking dan pengaruhnya terhadap Pencitraan “

Saya harap tidak ada pembaca yang tersinggung jika merasa saya bahas, karena saya tidak membahas individu, melainkan fenomena yang memang terjadi saat ini. Dan ingat, pembahasan ga penting ini seperti biasa akan saya sajikan melalui pendekatan scientific dan diusahakan kontekstual dengan ilmu yang saya pelajari secara akademis. Jadi, saya jamin…semua yang akan saya kemukakan adalah beralasan dan berlatarbelakang yang masuk akal.

Di saat The Social Network tidak memengkan Oscar, maka saya hanya akan menampilkan quote pendek dari film tersebut.

Mark Zuckerberg: People want to go online and check out their friends, so why not build a website that offers that? Friends, pictures, profiles, whatever you can visit, browse around, maybe it’s someone you just met at a party. Eduardo, I’m not talking about a dating site, I’m talking about taking the entire social experience of college and putting it online.

Selanjutnya, tulisan saya akan dikaitkan dengan segala sesuatu yang berbau internet. Ternyata ada kehidupan berbeda di luar kehidupan nyata kita ini.

Begini,

Seorang Anthony D. King pernah mengklasifikasikan bangsa di dunia menjadi 2 kriteria, begini yang saya kutip dari buku yang diedit oleh Nezar Alsayyed, Forms of Dominance on the Architecture and Urbanism of the Colonial Enterprise.:

“The world was divided into two kinds of peoples and two types of societies:

-powerful, administratively advanced, racially Caucasoid, nominally Christian, mainly european, dominant nations. and

-powerless, organizationally backward, traditionally rooted, dominated societies.

In short, in the early communication and exchange between cultures, the world was divided into colonizers and natives, with both parties recognizing and acknowledging this distinction.”

Sudahlah baca sekilas, dan mari masuk ke pembahasan yang penting. Bahwasannya…bangsa kita, bangsa Indonesia pada masa dijajah dulu, termasuk kepada kategori kedua, yaitu bangsa yang powerless, organizationally backward, traditionally rooted, dominated societies.

Tidak usah sedih dan merasa terhina, ini adalah pendapat teoritis seseorang berdasarkan fakta dan ilmu yang dimiliki. Namun begitulah adanya! Pada masa penjajahan, kita adalah termasuk kepada bangsa seperti itu. Ketika sekarang bukanlah lagi jaman penjajahan, apakah kita sudah tidak lagi menjadi seperti itu?

Mari kita bahas satu-satu, saya janji….ini akan berkaitan di suatu titik temu kepada adiksi kita terhadap pencitraan di social networking.

l a n j u t…

OK,

Ternyata sulit untuk tidak menjadi seperti itu. Bahkan bertahun merdeka, kita masih saja menjadi negara berkembang, belum negara maju. Mungkin kita bukan bangsa yang powerless, namun terkadang terlihat demikian adanya. Karena tanpa disadari, kita saling menjatuhkan satu sama lain. Alih-alih bersatu, kita masih saja berkutat dengan siapa yang benar dan siapa yang salah, yang benar harus diangkat, yang salah harus dibasmi. Sikap tersebut BETUL! Tapi yang mana yang benar? siapa yang salah? Semua selalu berkembang menjadi sebuah ambivalensi. Parahnya, sebuah ambivalensi yang terkadang sangat terstruktur. Jadilah tampilan luar kita: powerless.

Itu soal powerless. Bagaimana dengan traditionally rooted? Tidak ada salahnya mengedepankan sebuah tradisi di atas modernitas. Namun akar budaya yang seperti apa yang harus dipertahankan ke dalam konteks kehidupan? Berpikir secara open-minded adalah kuncinya. Ketika pikiran telah terbuka lebar, dengan mudahnya kita akan mengaplikasikan unsur tradisi kita tanpa mengganggu tradisi lain yang berbeda dengan akar budaya kita. Ingat, terbuka bukan berarti 100 % menghilangkan tradisi kita dan menggantinya dengan unsur budaya lain.

Yang menarik tentang membuka pikiran adalah ketika saya menghadiri sebuah seminar mengenai kebudayaan dan tradisi. Sebetulnya seminar ini diadakan untuk mengatasi culture shock siswa asing yang baru datang ke Jerman, yang tentu saja budayanya berbeda. Seminar ini sangat panjang dan melelahkan namun sangat menarik, apalagi ketika mengetahui cara pandang budaya-budaya dan tradisi di belahan dunia lain. Yang saya ingat dari seminar ini adalah ketika sang pembicara mengatakan bahwa pentingnya berpikiran terbuka, intinya…it’s ok to be different. Dan yang penting lagi adalah, kita harus juga menerima perbedaan tersebut tanpa memikirkan bahwa itu benar atau salah. Terkadang ada hal-hal yang memang harus kita cerna dan tidak usah dikonfrontasi. Inilah di saat kita harus menerima bahwa ada kalanya kita memang harus hidup berdampingan saja, tidak usah mengganggu satu sama lain.

Putri Masako asal Jepang pun berkata seperti ini:

At times I experience hardship in trying to find the proper point of balance between traditional things and my own personality.

Jadi, ketika terjadi konflik bathin antara tradisi dengan pribadi, sebetulnya itu sangat wajar, kita hanya harus berlatih dengan membiasakan untuk mencari titik keseimbangan antara tidak melupakan tradisi dan tetap berada di lajur keterbukaan akan modernisasi.

Nah, mungkin ini adalah poin yang penting untuk membahas topik kita (HAH? jadi daritadi belum?!!!!)

d o m i n a t e d  s o c i e t i e s

Hal ini sebetulnya berkaitan dengan essay panjang saya tentang kodependensi. Di notes sebelum ini. Yang berminat silahkan dibaca, yang ga berminat ya tidak usah, karena memang panjang. BLAH.

Yang sangat mendominasi di kehidupan bangsa Indonesia adalah societies. Yep, masyarakat. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal ini. Toh, sedari kecil pelajaran di sekolah kita mengajarkan untuk selalu mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Mengutamakan kepentingan golongan di atas kepentingan individu. Sebetulnya, ini agak bertentangan dengan dengan jargon yang menurut saya lebih masuk akal “Stop trying to please every one, live your way”.

Saya lebih menyetujui jargon ini, karena lebih masuk akal. Karena sebetulnya kita harus berfokus kepada kebahagiaan kita, dan ketika kita sudah dalam keadaan nyaman dan bahagia terhadap diri kita sendiri dalam artian memenuhi kepentingan kita, otomatis kita tidak akan menyusahkan oranglain dengan kepentingan-kepentingannya yang bermacam-macam dan berbeda-beda.

Karena society atau masyarakat sangat berperan dalam kehidupan kita, maka di sini pulalah terkadang pendapat masyarakat menjadi sangat penting bagi kita. Kita dipandang dan dilihat oleh masyarakat…Lalu timbul pertanyaan…’Gimana ya pendapat masyarakat tentang saya?’ Dan inilah yang lalu berkembang menjadi pencitraan: anggapan masyarakat terhadap diri kita.

Lucunya, karena kehidupan kita didominasi oleh pendapat masyarakat, maka seringkali apa yang kita lakukan berkiblat kepada masyarakat. Bukannya berpikir apa efeknya terhadap kita, yang lebih penting adalah efeknya terhadap masyarakat. Termasuk ketika kita memberitakan keadaan kita. Percaya atau tidak, lebih banyak ‘hidden agenda’ dibanding ‘sincerity’ dibalik kehidupan yang berfokus kepada society.

Hal inilah kemudian yang membuat orang-orang merasa nyaman berada dalam lingkup social networking. Di mana setiap orang bebas membuat pencitraan tentang dirinya dan bebas berharap seperti apa reaksi orang yang membacanya. Saya yakin, banyak sekali orang yang membuka account social networking dengan mencantumkan data diri yang tidak sebenarnya, dan tentu saja dengan tujuan berbeda-beda. Mungkin agar terlihat keren, atau malah biar terlihat jelek, atau memang dia tidak ingin diketahui saja identitas dirinya. Macam- macam, dan memang itu hak individu masing-masing.

Sahabat dekat saya bahkan mengatakan, “Facebook is a tool to make you look better, smarter, and any other things that you choose to be.” BENAR. Tinggal set dan cantumkan kita bisa berbahasa A, B, dan C, maka masyarakat pengguna Facebook akan manggut2 dan mengira bahwa kita bisa menguasai itu ini dan inu. Kita bahkan dapat menuliskan bahwa kita tinggal di Beverly Hills 90210, tanpa kita sebenarnya pernah ke Amerika. Atau taruhlah kita adalah Owner dari perusahaan Blabliblu, padahal perusahaan tersebut tidak pernah ada. Itu baru pencitraan mengenai diri kita. Bagaimana dengan keadaan aktual kita?

Teman saya asal Jerman pernah bertanya, kenapa saya begitu rajin mengganti-ganti status Facebook. Dan pertanyaan paling nendangnya lagi adalah ketika dia sudah mulai bertanya “why is it so important to make the world know, what you are recently doing?” Saya cuma bisa cengangas cengenges ketika ditanyakan hal seperti itu. Karena memang tidak penting, saya lalu menjawab “Nothin’ it’s just something that I do for living…Giving the actual facts about me, because I am fabulous.”  Ya tentu saja saya menjawabnya bercanda. Namun diam-diam saya juga mengadakan analisa. Membuat perbandingan keadaan FB teman-teman saya yang berkebangsaan Jerman, dengan teman-teman saya yang bukan orang Jerman. Baca: teman-teman di Indonesia.

 (nb: perlu diketahui, bahwa saya selalu bermain dengan orang2 latin yang juga hedonis seperti saya…nyiehehehe…menurut saya orang-orang Jerman itu sangat baik dan tulus namun terkadang terlalu serius..)

Jadi, hasil pengamatan saya terhadap update status orang Jerman adalah mereka sangat jarang menuliskan update status yang sifatnya personal. Mereka Lebih banyak yang mencantumkan berita2 aktual, ataupun quote dari mana-mana. Tidak seperti teman-teman saya di Indonesia (termasuk saya tentunya…kan saya yang ditanya tadi…). Seringkali status Facebook yang dicantumkan adalah yang sifatnya personal.

Misalnya:

 

“Aku benci kamu! Kamu seperti sawah yang tak pernah disiram. Sana… Go to Hell!”

“Duh baru potong rambut nih, abis ini beli Skateboard ah”

“Sedih deh, lampu kamar mati. Tapi lampu taman nyala”

atau yang lebih rumit dan panjang:

“Aku kenal sama dia, tapi kok dia ga kenal sama aku ya? Aku yakin dia bohong, aku bisa melihat dari bentuk ubun-ubunnya yang mirip sama kucing aku. Jangan kira aku berbohong deh, aku kan rajin nonton Lie to Me. Aku tau sih kamu sukanya Gossip Girl, tapi biasa aja dong. Emangnya elo Serena Van der Woodsen? Sana ke laut aja lo. Mending belajar, besok kan ulangan Biologi”

atau yang sifatnya pamer:

“Duh, beli rumah udah, apartemen udah 3, beli apa lagi ya? Asik…beli siomay ah. Lapar”

“Bosen deh kemanamana naik Jet Pribadi. Mudah2an minggu depan bisa naik sepeda ke sekolah”

atau yang romantis dan penuh cinta dan kaya drama:

“kangen banget sama kamu , dan mantan kamu si itu, dan mantannya mantan kamu. Duh kok aku kenal mereka sih?”

“belum pernah jatuh cinta kaya begini. Eh tunggu bentar…pernah ding…tapi lupa kapan”

“kenapa sihhhh aku mesti tau kalau kita kakak adik, padahal kan minggu depan kita menikah”

atau yang pake bahasa inggris tapi salah dan …ehmmh:

“is miss you”

“you doesn’t know what i’m talk”

“they goes to school with she”

dan lain lain sebagainya

(btw, itu semua status palsu bikinan ya….ada sih yang beneranya…ehmmhmm)

Demikianlah terbukanya kita atas hal-hal yang sifatnya personal. Ini juga setelah saya melakukan pengamatan dan jajak pendapat kepada teman saya yang tadi bertanya-tanya kepada saya. Dia lagi-lagi berkata “I don’t share personal thing to public”, atau adalagi orang yang selalu remove tag terhadap semua foto yang saya tag ke dia. Alesannya “I don’t want people to use my picture. There are so many misused and spam using our picture on the internet these days”

Belum lagi yang dipertanyakan adalah jumlah teman saya yang di atas seribu. Teman-teman kantor saya di Munich selalu bertanya, “Do you know every one of them?” dan saya selalu bilang, tidak. Lalu mereka pasti melanjutkan bertanya, “What is your purpose to make this account?” ,menurut mereka itu penting juga. Karena mereka bisa mentolerir jika saya memang membukanya untuk memperluas pergaulan untuk menjaring teman-teman baru. Namun jika memang untuk teman-teman dan keluarga yang dikenal, untuk apa meng-approve semua friend request. Akhirnya…saya setting hidden jumlah teman saya, agar mereka tidak lagi banyak cing cong.

Fenomena yang saya bahas di atas adalah berbatas Facebook. Tentu saja banyak hal lain bermacam-macam. Twitter adalah sarana yang juga sangat gampang untuk membuat pencitraan. Tulis saja apapun, dan orang akan mencitrakan sesuai dengan tweet kita. Yang lain lagi, Foursquare misalnya, menitikberatkan pada check in di suatu tempat. Berapa banyak dari kita yang memang benar-benar mengunjungi tempat tersebut? Atau memang hanya membuat pencitraan, as if you were really there?

Didominasi oleh kehidupan bermasyarakat membuat bangsa kita terlalu hati-hati dan tidak nyaman di kehidupan nyata. Diperhatikan dan ingin selalu dipandang positif dan baik oleh masyarakat membuat orang-orang menjadi lebih nyaman untuk ‘jadi apa yang diinginkan’ di dunia maya, namely: social networking. Bahkan banyak sekali orang-orang yang tampak seperti memiliki dua kepribadian. Pribadi di dunia nyata, dan pribadi di social networking. Banyak sekali orang pendiam yang menjadi begitu ‘talkative’ ketika dituntut berbicara kurang dari 140 characters di twitter. Banyak sekali orang yang menguasai bahasa Asing di Facebook, namun tidak ketika di dunia nyata. Semua orang tampak memiliki pekerjaan di dunia social networking, ketika pada dunia sebenarnya begitu banyak pengangguran. Begitu banyak ketidaksinkronan antara dunia maya dan dunia nyata.

Seperti ketika seharusnya saya mengetik tesis saya di dunia nyata, saya malah menuliskan hal ini di account social networking saya. Apalagi alasannya kalau bukan untuk pencitraan belaka.

*posting-an tersebut dibuat oleh Tasya Mustaram di Notes Facebooknya: http://ow.ly/4C9XE

  1. Waduh, tersinggung nih saya. Jujur, saya nulis buku “Cara Andal Jadi Tenar-Kreatif Menulis Efektif di New Media” juga dalam rangka pencitraan, lho. Ya, pumpung Tuhan masih beri kemampuan dan kemauan menulis. Tapi lama saya tidak tulis status di FB. Saya pernah menulis note di FB tentang citra seseorang. Belakangan, eh ternyata dia transeksual.

    Siip, nulis terus ya. Sukses.

    • Memang disitu kekuatan New Media ya Mas, siapa bisa menjadi siapa di dunia maya. Saya rasa manusia wajar mempertunjukan kebolehannya demi citra yg baik. Tergantung bagaimana kadarnya saja. Yah, kalau terlalu berlebihan, orang mungkin sudah pintar menebak bgmn orang itu sesengguhnya di kehidupan asli🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: