agastrigi

Ujian Kesabaran

In Uncategorized on August 28, 2011 at 5:24 pm

(sumber: cinemagraphs.com)

Kalau di bulan puasa seperti ini, pasti saran yang paling sering dilontarkan adalah soal kesabaran – “sabar ya sabar”. Nggak hanya soal macetnya Jakarta yang hampir bikin setengah gila, atau malah ngadepin penghuni negeri ini yang kadang diluar batas kewajaran. Hehe, malah salah satu temen saya pernah ada yang nulis gini di akun Twitter-nya, “Macet keliatannya sepele, tapi nyatanya bisa mengurangi kadar nasionalisme.” Kira-kira gitu juga ngga ya yang dirasakan setiap orang Jakarta?

Itu soal macet. Tapi ada lagi nih persoalan warga Jakarta yang kerap kali bergantung nasib kepada transportasi umum seperti, Transjakarta. Saya akui, peletakan titik-titik shelter busway itu sangat strategis. Yah, sudah sangat memudahkan warganya lah ketimbang harus turun-naik-turun nunggu bus atau angkot yang sudah pasti kecepatannya pun tergantung dapet supir yang punya jiwa pembalap atau tidak. Sudah pasti keluar angkutan juga keringetan karena bersimpuh peluh berbagi tempat dengan penumpang lainnya. Sayangnya, kok di Transjakarta terjadi juga ya?

Terpaksa juga akhirnya memasuki Transjakarta yang penuh sesak seperti itu. Padahal penantiannya sudah lebih dari setengah jam. Aduh, saya termasuk orang yang mudah berubah raut muka kalau sudah menunggu Transjakarta. Menunggu dalam keadaan berdiri dan penuh sesak itu tantangan belajar sabar yang sesungguhnya, saudara-saudara. Apalagi plus ngantri panjang ditambah bulan puasa. Sebagai pelipur lara ya harus sedia iPod atau ponsel di genggaman.

Nah, cukup ya komplainnya haha. Ketika masuk di Transjakarta koridor berikutnya yang saya tumpangi, untungnya pas jam makan siang akan berlangsung. Sepi. Saya pun duduk di depan bersama para manula yang keliatan dari gaya-nya baru sekali naik Transjakarta. Dia dan seorang di sebelahnya bersautan mengomentari gedung Jakarta yang dilihatnya dari kaca bus besar di depannya.

“… Enak ya naik Transjakarta. Daripada naik angkot mesti turun lagi” kata seorang bapak manula sambil tetap memandangi gedung-gedung di seputaran Thamrin.

“Iya enak. Tapi lama banget nunggunya” kata temannya yang keliatan berumur tidak jauh dengan yang satunya.

Mendengar pembicaraan kedua orang tua tersebut, si pengemudi Transjakarta yang berjenis kelamin wanita pun menimpali “Sabar pak, jadi orang itu harus sabar. Penumpang suka nggak sabaran sih kalo nunggu busway. “

“Tuh kita harus sabar…” kata salah satu dari mereka mengingatkan diri masing-masing.

“Ohh, gitu. Harus sabar ya. Mbaknya juga udah sabar ya nyetir buswaynya” kata yang satunya lagi.

Entah pembicaraan itu membuat saya bingung arahnya kemana. Sabar? Trus, masalah selesai? Mulai lagi saya dengan pergolakan dalam hati yang sedikit mulai menyalahkan pemerintah karena ketidak tegasan dalam mengelola transportasi umum dengan baik.

Selang beberapa menit, belum ada lima menit malah. Tiba-tiba si pengemudi wanita itu marah-marah menyalahkan Transjakarta yang tepat didepannya berhenti di lampu merah yang sudah menyala hijau. Supir Transjakarta di depannya itu malah sempet-sempetnya Sholat Dzuhur di dalam bus disaat lampu merah menyala.

Yang lucu adalah pengemudi Transjarakta yang saya tumpangi itu mendadak marah-marah gitu sambil terus mengklakson panjang mobil Transjakarta di depannya. Hihi, melihat dia marah, langsung kedua orang tua tadi itu langsung menimpali, “Sabar mbak…sabar!Katanya tadi harus sabar”.

Susah ya ternyata aplikasinya? Bener-bener susah.

Dibalik kata sabar yang masing-masing ucapkan itu bukan sekedar suatu hal yang menurut saya harus dipasrahkan lalu tidak menghasilkan pengertian apa-apa. Tetep perlu ada ketegasan dibalik kesembrono-an manusia yang terkadang menilai dirinya selalu benar. Ironisnya, banyak orang yang kemudian menyalahkan keadaan orang lain tanpa melihat diri sendiri terlebih dahulu. Yang sebenarnya memiliki kelemahan yang sama atau bahkan hanya terletak di salah satunya.

Makanya, banyak pengendara motor yang sampai beradu urat menyalahkan pengguna mobil padahal dirinya sendiri yang menyalahkan aturan. Atau, kelakuan pengendara angkutan umum yang masih tanpa rasa berdosa parkir di urutan depan lampu merah yang menyala hijau. Hasilnya? Kebanyakan sabar mereka yang bersalah ini pun nampaknya merasa dirinya benar toh?

Bahkan, dikeadaan paling ‘gila’ sekalipun saya sempat menulis ini di akun twitter saya, “Jaman sekarang, yang waras harus banyak bersabar” — Haha, itu sih salah satu cara agar tetap merasa waras :p

Akhir kata, sabar tetap harus diuji, tapi ketegasan tetap tidak boleh luntur. Dikala hasilnya mengarah ke nihil? Yah, anggap saja kalian baru saja lulus ujian kesabaran dan dianggap (masih) waras. Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: