agastrigi

Manusia Setengah Dewa

In Uncategorized on January 16, 2013 at 5:41 pm

This is my gift, my curse. Meminjam kalimat dari Peter Parker di film Spiderman adalah suatu penggambaran ketika berbicara tentang dokter. Ya, menjadi seorang dokter memang sebuah kebanggan, sekaligus kutukan saat di tangan dokter pula hidup seseorang mulai dipertaruhkan. Kepada manusia setengah dewa itulah masyarakat bergantung kesembuhan mulai dari penyakit yang sepele hingga yang mematikan. Tak ayal, dengan optimisme dan berharap sembuh kepada manusia setengah dewa itu tadi, tak sedikit pula yang berujung duka, Karena faktanya, kelalaian medik (malpraktek) masih marak terjadi di Indonesia.

____

“Sebagai seorang dokter, kita memang harus hidup dengan kutukan tersebut” — Wakil Ketua Komisi IX dari Fraksi Partai Demokrat, dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ

____

Entah kenapa menyaksikan rapat di Komisi bidang kesehatan DPR pagi itu menghantar saya ingin menulis di blog ini. Dan masih jelas di ingatan kita semua, kasus Prita Mulyasari beberapa tahun yang lalu juga pernah mengalami hal yang sama. Melihat masa lalu pula, kakak kandung saya pun nyaris mengalaminya. Syukur, ibu punya pengetahuan soal medis. Jadi ketika dokter yang menangani kakak saya itu hendak memberi obat X, ibu langsung komplain. Ah, yang benar saja, kakak saya diberi obat yang efek sampingnya bisa memperhambat pertumbuhan a.k.a bisa bikin kuntet!

Makin terenyuh ketika mendengar ibu korban yang berkebangsaan Kanada menceritakan anaknya yang berinisial ED (11 bulan) tewas karena akibat salah transfusi darah. Alhasil, dengan kondisi tubuh yang masih belia dimasukan darah sebanyak 50 cc, si pasien langsung mengalami kejang-kejang lalu tak lama kemudian meninggal dunia. Hear it!

Okay, ngomongin soal rumah sakit sebenarnya banyak rumah sakit yang tidak kompeten untuk melakukan operasi. Bagaimana mungkin menyelamatkan nyawa orang, jika alat-alat operasinya tidak lengkap atau bahkan yang sederhananya dokternya tidak ada. Ini pun nyatanya terjadi di Indonesia.

Curiganya, apalagi kalau bukan karena bisnis. Berhubung sekolah kedokteran mahal dan berharap balik modal, jadilah mereka seenaknya memperlakukan pasien dengan tidak adil. Entah itu melakukan pungutan, mendiagnosis dengan tidak tepat dan juga mengambil tindakan medik dengan tidak profesional.

Well, semoga aja pertemuan kemarin itu dengan beberapa pihak rumah sakit dan kementerian bisa mewujudkan reformasi kesehatan. Urusan nyawa memang sudah ada yang atur. Tetapi bukan karena kelalaian dari manusia setengah dewa itu tadi yang menjadi cerita akhirnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: