agastrigi

Author Archive

Signs of Pregnancy

In Uncategorized on September 27, 2016 at 2:18 am

Akhirnya, setelah setahun sejak kami menikah di tahun 2015 lalu, doa kami di setiap kesempatan terjawabkan. Puji Tuhan, saya hamil. Rasanya? Campur aduk. Tapi saya bisa definisikan itu adalah ungkapan rasa bahagia yang saya pun tidak bisa menggambarkannya. Waktu satu tahun, mungkin bisa dibilang tidak terlalu lama bagi pasangan muda yang baru menikah dan akhirnya dikaruniai seorang anak. Tapi saya pun sempat mengalami drama di awal karena mengetahui kondisi medis dari dokter kandungan.

Sejak di vonis dokter ada kista ovarium yang berukuran 6 cm, dokter meminta saya untuk operasi (jika ingin segera hamil). Saat itu saya memang datang ke rumah sakit dalam kondisi sedang haid hari kedua (begitu baiknya bila ingin cek rahim). Harusnya, dalam kondisi itu, kista ikut luruh atau hilang dengan sendirinya. Tapi berdasarkan konklusi dokter, karena ukurannya lebih dari yang seharusnya maka kista yang ada di indung telur kiri saya harus diangkat. Jujur, rasanya enggak enak sebagai orang yang jarang sakit tetiba divonis harus operasi gitu. Saya terdiam lama. Sampai akhirnya dokter meminta saya minum obat dulu dengan harapan kista itu bisa mengecil.

Sepulangnya dari rumah sakit, saya langsung mencari informasi dari internet soal kista dan bagaimana pengalaman orang-orang yang survive dalam kondisi ini. Banyak yang mencoba minum daun sirsak sebagai pengobatan herbal. Itu juga yang saya lakukan dan sedikit mengabaikan anjuran dokter untuk kembali mengabarkan progres kondisi saya. Tidak hanya itu, semenjak itu pun saya belajar untuk sabar dan ikhlas. Belajar menikmati hidup dan mulai ajak diri buat santai. Hahaha.. Sebelumnya, memang agak gila di dunia persilatan (read: kerjaan). Saya terkadang ‘memaksa’ diri saya sampai lupa dengan kondisi diri sendiri.

Suami saya pun punya caranya sendiri. Dia dan kakak ipar mengajak saya dan kakak saya untuk liburan bersama ke Semarang. Untuk pertama kalinya kami double date berangkat naik mobil dari Jakarta menuju Semarang. Salah satu tujuan wisata kami adalah Gua Maria Kerep Ambarawa. Selain karena alasan belum pernah kesana, saya punya misi yang berbeda. Ya, apalagi kalau bukan soal momongan. Hihi, tapi permohonan saya pun berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. I believe, God has perfect timing.

Alasan saya ke Gua Maria Kerep Ambarawa juga awalnya datang dari seorang teman. Seorang wartawan senior Kompas (Mas Osa) suatu hari menanyakan kabar saya. Tidak seperti biasanya, dia hanya menanyakan soal kehamilan saya padahal waktu itu sudah larut malam. Tahu saya belum juga hamil, dia menyarankan saya untuk ke Gua Maria Kerep, berdoa dan minum air dari mata air disana. Entah kenapa saya merasa ini seperti petunjuk. Tidak ada salahnya apabila saya coba kan?

Setelah tiba kembali di Jakarta, menjalani kehidupan seperti biasanya, di akhir bulan Maret 2016 saya terlambat haid. Selama ini saya selalu tepat waktu bila datang bulan. Tidak ingin kecewa, saya pun memutuskan untuk menunggu seminggu kemudian. Tiga test pack bahkan sudah saya beli untuk meyakinkan diri. Hahaha itu juga karena tidak percaya dengan garis samar yang buat saya ragu. Sampai akhirnya saya menangis haru dalam kamar mandi sembari mengucap syukur. #drama

cymera_20160927_085527

 

 

Advertisements

Monolog

In Uncategorized on October 24, 2014 at 2:12 pm

Jakarta, 24 Oktober 2014. Proses yang panjang sampai akhirnya di hari ini saya memberanikan diri menuangkan isi pikiran lewat blog. Sebenarnya ini cara lain untuk saya bisa bicara sama diri sendiri, setelah belasan kali saya monolog di dalam mobil saat sedang menyetir sendiri.

“What’s wrong with you?” tanya saya bicara sendiri.

Diam agak lama dan hanya bisa melontarkan helaan nafas yang terdengar lirih. Saya sebenarnya tau rasa itu, tapi saya kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk menyampaikannya. Bahkan kepada sahabat saya sekalipun. Kesempatan yang langka saya bertemu dengan Jessica, sahabat yang sebentar lagi menikah di bulan November. Ingin rasanya menceritakan kegundahan ini padanya tapi apa daya, saya tak rela mengatakannya di depan makhluk yang tengah berbahagia jelang pernikahannya itu. Saya bungkam sambil mencicipi ramen di restoran pilihannya dan mencoba tertawa di tengah pembicaraan kami.

Ah ya, saya ingat, saya sempat bercerita tentang rasa ini kepada kekasih. Ya walau tidak semua. Hm, mungkin itu sebabnya rasa ini enggan pergi.

Begitu juga kepada Sang Pencipta. Tak mampu berkata-kata, terkadang saya hanya menangis dan minta di kuatkan. Sehari dua hari saya kuat, kemudian selanjutnya kembali tumbang.

Saya kemudian mengerti, upaya itu terus gagal karena saya belum memberi waktu untuk bicara dengan diri saya sendiri. Otak saya memaksa untuk tidak melakukan hal itu dan memilih untuk memikirkan lain hal, seperti kerjaan misalnya, urusan jelang pernikahan dan urusan keluarga. Tak jarang ketiganya muncul ego masing-masing karena merasa berhak dipikirkan terlebih dahulu. Bahkan sampai di titik ini pun, saya masih merasa enggan membeberkan persoalan saya dengan gamblang.

Saat hari libur tiba, saya sangat bereuphoria akan kedatangan hari yang saya fikir akan membuat hidup terasa lebih mudah. Tapi tanpa sadar waktu 24 jam itu malah habis untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang menanti untuk di selesaikan. Ternyata, sulit untuk membuat otak ini berfikir sedikit lebih santai.

Di malam ini ketika saya sudah terbaring di tempat tidur, rasa itu datang lagi. Rasa ingin di mengerti dan di pahami yang datang dari diri sendiri. Rasa yang terus berteriak ketika saya hendak meninabobokan seluruh pikiran itu. Saya sudah lama membiarkan diri saya diam.

“Oke, saya beri kamu waktu. Coba jawab pertanyaan saya yang tadi,” kata saya lagi dalam hati.

Saya kembali dengan diam. Kali ini agak lama, dengan mata terpejam saya sempat merasakan kantuk. Meski pelan, namun saya masih bisa mencerna apa yang terucap dari bibir saya sendiri, “Saya lelah, istirahat lah Astri!”.

Dunia Sudah Gila!

In Uncategorized on March 13, 2014 at 2:57 pm

Belakangan ini saya berfikir, sepertinya dunia ini semakin gila. Entah apa yang membuatnya demikian. Apa kehidupan yang serba modern bisa disalahkan karena di sisi lain dapat menciptakan manusia-manusia yang malas dan mengabaikan norma yang ada? Atau karena tata ruang ibukota yang marak dengan kompetisi tidak sehat akan gedung perkantoran dan pertokoan, sementara sedikit sekali taman kota sebagai hiburan dari kemacetan Jakarta?

Pemberitaan di beberapa media massa sepekan ini menyoroti pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina Suroto yang dilakukan oleh mantan dan kekasih mantannya. Gila! Agak males sebenarnya bicara mengenai asmara anak belasan tahun dengan tindakan bodoh seperti itu. Tapi cerita ini mempunyai daya pikat sendiri bagi saya setelah tahu, korban adalah anak semata wayang orangtuanya. Dilihat dari persepsi apapun, saya tidak bisa mengerti. Apa yang ada dibenak pelaku ya??

Pertanyaan itu lantas membawa potongan-potongan cerita yang pernah saya dengar sebelumnya menjadi satu..

Cerita pertama, adik teman saya kini duduk di kelas tiga SMP di bilangan Jakarta Selatan. Dia laki-laki. Saya pernah bertanya ke teman saya (perempuan), kenapa diusia adiknya yang menurut saya harus bertahap belajar mandiri itu selalu diantar-jemput olehnya? Dua alasannya, karena dia anak kesayangan dan tidak berani pulang sendiri. Saat itu saya belum bisa memaklumi, karena sejak kelas 4 SD saya sudah belajar naik angkot dan jalan kaki tiap kali berangkat dan pulang dari sekolah.

Cerita kedua, di suatu kelas pendalaman iman, seorang pengajar paruh baya bercerita kepada saya. Ia bilang, hingga saat ini tidak bisa merelakan cucunya yang duduk di SMP untuk pulang sendiri meskipun dekat dengan rumah. Alasannya, tindakan kriminal yang dapat mengancam siapapun dan kapanpun. Saya pun mulai memaklumi..

Dan, cerita ketiganya adalah berita yang selalu disebut asmara berujung maut oleh media ini. Saya kemudian dibuat berfikir, apakah kita harus memproteksi seseorang agar selalu aman (cerita satu)? Lalu, jika tindakan kriminal itu bisa terjadi kapanpun dan dimanapun, bukan kah semua hal itu sia-sia (cerita kedua)? Bahkan seorang yang kerap kali disebut teman dekat pun bisa melakukan pembunuhan berencana (cerita ketiga).

Saya teringat ada salah satu psikolog yang mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang bisa melakukan mass murders atau pembunuhan besar-besaran, tanpa alasan. Makhluk hidup lainnya seperti hewan atau bahkan tumbuhan tidak bisa melakukan hal itu. Hewan pun hanya bisa melakukan serangan atau serangan balik ketika ada sesuatu yang membuat dirinya merasa terancam. Sementara manusia lebih dari itu. Padahal, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dan diberikan otak untuk berfikir mana yang baik dan buruk. Namun ketika suatu yang buruk itu dilakukan, manusia bisa menjadikannya sebuah petaka. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan.

Namun, kemudian saya dibuat berfikir lagi. Ketika peristiwa keji seperti pembunuhan Ade Sara terjadi, menurut saya manusia menjadi tidak ada bedanya dengan hewan bahkan lebih buruk daripada itu, karena hanya manusia yang bisa melakukan kejahatan tanpa sebuah alasan. Manusia menjadi binatang yang paling buas yang ada di muka bumi ini. Mereka ‘memakan’ segalanya dan terkadang lupa untuk menjaga. Oh please animalize me and save me from this human world!

Manusia Setengah Dewa

In Uncategorized on January 16, 2013 at 5:41 pm

This is my gift, my curse. Meminjam kalimat dari Peter Parker di film Spiderman adalah suatu penggambaran ketika berbicara tentang dokter. Ya, menjadi seorang dokter memang sebuah kebanggan, sekaligus kutukan saat di tangan dokter pula hidup seseorang mulai dipertaruhkan. Kepada manusia setengah dewa itulah masyarakat bergantung kesembuhan mulai dari penyakit yang sepele hingga yang mematikan. Tak ayal, dengan optimisme dan berharap sembuh kepada manusia setengah dewa itu tadi, tak sedikit pula yang berujung duka, Karena faktanya, kelalaian medik (malpraktek) masih marak terjadi di Indonesia.

____

“Sebagai seorang dokter, kita memang harus hidup dengan kutukan tersebut” — Wakil Ketua Komisi IX dari Fraksi Partai Demokrat, dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ

____

Entah kenapa menyaksikan rapat di Komisi bidang kesehatan DPR pagi itu menghantar saya ingin menulis di blog ini. Dan masih jelas di ingatan kita semua, kasus Prita Mulyasari beberapa tahun yang lalu juga pernah mengalami hal yang sama. Melihat masa lalu pula, kakak kandung saya pun nyaris mengalaminya. Syukur, ibu punya pengetahuan soal medis. Jadi ketika dokter yang menangani kakak saya itu hendak memberi obat X, ibu langsung komplain. Ah, yang benar saja, kakak saya diberi obat yang efek sampingnya bisa memperhambat pertumbuhan a.k.a bisa bikin kuntet!

Makin terenyuh ketika mendengar ibu korban yang berkebangsaan Kanada menceritakan anaknya yang berinisial ED (11 bulan) tewas karena akibat salah transfusi darah. Alhasil, dengan kondisi tubuh yang masih belia dimasukan darah sebanyak 50 cc, si pasien langsung mengalami kejang-kejang lalu tak lama kemudian meninggal dunia. Hear it!

Okay, ngomongin soal rumah sakit sebenarnya banyak rumah sakit yang tidak kompeten untuk melakukan operasi. Bagaimana mungkin menyelamatkan nyawa orang, jika alat-alat operasinya tidak lengkap atau bahkan yang sederhananya dokternya tidak ada. Ini pun nyatanya terjadi di Indonesia.

Curiganya, apalagi kalau bukan karena bisnis. Berhubung sekolah kedokteran mahal dan berharap balik modal, jadilah mereka seenaknya memperlakukan pasien dengan tidak adil. Entah itu melakukan pungutan, mendiagnosis dengan tidak tepat dan juga mengambil tindakan medik dengan tidak profesional.

Well, semoga aja pertemuan kemarin itu dengan beberapa pihak rumah sakit dan kementerian bisa mewujudkan reformasi kesehatan. Urusan nyawa memang sudah ada yang atur. Tetapi bukan karena kelalaian dari manusia setengah dewa itu tadi yang menjadi cerita akhirnya.

SEA GAMES XXVI

In Uncategorized on January 3, 2012 at 4:36 pm

Walaupun sudah satu bulan lebih lamanya SEA Games berlalu, tapi sampai saat ini setiap detik moment dari tanggal 11 November 2011 – 22 November , 2011 selalu repetitif di kepala. Terutama karena pengalaman ini memang sangat langka dan seumur hidup buat saya. Sebagai orang yang kurang sporty dan kurang menguasai bidang olahraga, saya terbilang cukup beruntung hehe. Awalnya bisa ikut dalam kepanitiaan SEA Games ini juga karena sifat impulsif saya karena ogah menganggur disela-sela skripsi. Tanpa ba-bi-bu saya langsung menyambangi area GOR Soemantri untuk mengikuti test rekrutmen LO SEA Games.

Dari rasa antusias yang berlebihan sampai ke tahap males-malesan pun akhirnya terlewati karena berita seputar SEA Games yang santer terdengar sebelum event ini berlangsung sudah cukup mengecewakan. Tapi, akhirnya teringat akan hal ini: If you are going through hellkeep going.

Sampailah pada keputusan, saya ditempatkan menjadi NOC Assistant kontingen Vietnam. Permulaan ini yang membawa saya bertemu dengan 24 teman lainnya yang juga berjuang mengurusi kontingenVietnam hingga SEA Games berakhir. Sama seperti saya yang menjadi fisrt-learner di event SEAG ini, kami pun pada akhirnya harus learning by doing dalam melakukan tugas kami sebagai LO. Dan, akhirnya tanggal 7 November 2011, perjuangan kami pun telah dimulai yang kemudian bertemu dengan Mrs. Quyng, Mrs. Bich Van, Mr. Saw, Mr. Minh, dan lain-lain. Mereka ini adalah para delegasi Vietnam yang mengurusi segala hal mengenai seluruh pertandingan yang negara mereka ikuti dalam SEAG XXVI. Dan, tugas kami sebagai LO NOC Assistant adalah menjadi mediator antara mereka dengan INASOC sekaligus menjadi asisten mereka dalam mensukseskan acara SEAG XXVI di Jakarta.

Saya tidak pernah lupa pengalaman saya datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno melalu akses VVIP dan melewati lapangan 30 menit sebelum berlangsungnya Indonesia vs Cambodia. Hal itu berbeda rasanya ketika dari sudut penonton sudah mulai bersorak tak sabar menunggu pertandingan dan lapangan pun seharusnya steril. Pengalaman tak terlupakan lainnnya adalah ketika harus tek-tok Sultan Hotel –  Bandara – Sultan Hotel saat menjemput tamu Vietnam di Bandara Internasional Soetta dan dikabarkan tentang penundaan kedatangan (delay) selama berjam-jam. Hal impulsif yang saya lakukan dengan Mr.Saw di Bandara yaitu menjadi guru les privat Bahasa Indonesia untuknya sembari membunuh waktu. Satu lagi pengalaman menarik saat di Bandara adalah ketika saya harus berurusan dengan Kantor Polisi setempat sebagai saksi dan pelapor akibat orang yang tak dikenal telah mengganggu kontingen negara yang saat itu saya pegang, Vietnam. Tiga hari berturut-turut datang ke Bandara selalu saja menghasilkan kejadian yang “menarik”. Kejadian random itu, sampai mempertemukan saya dengan teman SMP saya, Toni, yang sudah 7 tahun lamanya kami tidak bertemu. *high-five*

Lalu? Hal menarik yang saya dapatkan saat bertugas di Sultan Hotel? — Banyak. Berhubung hotel tersebut dikhususkan untuk cabang olahraga Bola / Football, jadi pemandangan sehari-hari sudah pasti para atlet bola dari ke-sebelas negara yang mengikuti SEAG XXVI. Pernah suatu hari saya hendak turun ke lobby dengan menggunakan lift. Ketika lift terbuka, langsung disambut 3 atlit Filipina yang berdarah campuran Brazil, bertelanjang dada memasuki lift.  — That was really awkward. hahaha. Puncak ke-hectic-an pun terjadi saat tanggal 8 November 2011. PARADE OF CHAOS — Saat itu, 24 orang HQ Staff dari Vietnam tiba di Sultan Hotel namun tidak mendapatkan kamar. Ada sekitar 5 jam lamanya mereka luntang-lantung menunggu kabar baik. Phew! Hasilnya tetap nihil. Alhasil, mereka menginap semalam di Sultan Hotel, di kamar milik delegasi Vietnam yang sebelumnya sudah tiba. Kemudian, esok paginya mereka menginap ke Peninsula.

Kedekatan saya dengan orang Vietnam semakin akrab ketika saya bertemu dengan Team Women’s Futsal Vietnam. Pada tanggal 14 November 2011, mereka tiba di Bandara Soetta dan kemudian menginap di Apt. Puri Cassablanca pukul 18.30. Bukan hal yang aneh kalau saya tidak “kewalahan” mengurusi mereka. Berbeda dengan negara lainnya, Vietnam memang sedikit menarik. Hihi, Rempong bok! haha. Belum lagi bahasa Inggris mereka yang kurang fasih. Pengucapannya pun kadang asing di telinga kita :))

Tapi setelah SEAG berlalu, hingga mengantar mereka pulang ke Airport untuk kembali ke negaranya, saya pun meneteskan air mata. Sedih juga kehilangan teman baru yang hampir 2 minggu lamanya selalu bersama. Apalagi, kenangan itu bertepatan dengan ulang tahun saya pada tanggal 20 November lalu. Saya bersama team futsal cewek Vietnam pergi ke Grand Indonesia untuk jalan-jalan sekaligus makan malam. Ini foto ketika kami selesai makan malam di Duck King, Grand Indonesia:

FYI, walau badan dan wajah mereka yang baby-face kayak anak SMA, ternyata mereka itu umurnya sekitar 25 keatas. Eh, ada satu orang dari mereka yang berumur 20 tahun (cari aja yang mukanya paling tomboy. Yes, she’s a female), dan dia ini naksir sama saya. Sampai-sampai waktu mau pulang, dia memberikan boneka Modi ke saya buat kenang-kenangan. Haha

Tak hanya itu, walau waktu saya kebanyakan mengurusi Women Team Vietnam, tapi saya suka menyempatkan diri bertemu dengan Men Team-nya. Haha, perbedaan mereka pun mencolok. Keliatannya, yang cewek napsu banget mau menang, sedangkan yang cowok? “Masuk ke tahap final aja sudah luar biasa buat kami. Menang kalah di Final itu urusan lain” kata Sergio Gargelli, Pelatih Men Team Futsal Vietnam.

Well, mereka semuanya ngangenin deh. Hehe, selebihnya biar foto aja kali ya yang berbicara. Ini dia koleksi foto-foto saat SEAG XXVI:

Ujian Kesabaran

In Uncategorized on August 28, 2011 at 5:24 pm

(sumber: cinemagraphs.com)

Kalau di bulan puasa seperti ini, pasti saran yang paling sering dilontarkan adalah soal kesabaran – “sabar ya sabar”. Nggak hanya soal macetnya Jakarta yang hampir bikin setengah gila, atau malah ngadepin penghuni negeri ini yang kadang diluar batas kewajaran. Hehe, malah salah satu temen saya pernah ada yang nulis gini di akun Twitter-nya, “Macet keliatannya sepele, tapi nyatanya bisa mengurangi kadar nasionalisme.” Kira-kira gitu juga ngga ya yang dirasakan setiap orang Jakarta?

Itu soal macet. Tapi ada lagi nih persoalan warga Jakarta yang kerap kali bergantung nasib kepada transportasi umum seperti, Transjakarta. Saya akui, peletakan titik-titik shelter busway itu sangat strategis. Yah, sudah sangat memudahkan warganya lah ketimbang harus turun-naik-turun nunggu bus atau angkot yang sudah pasti kecepatannya pun tergantung dapet supir yang punya jiwa pembalap atau tidak. Sudah pasti keluar angkutan juga keringetan karena bersimpuh peluh berbagi tempat dengan penumpang lainnya. Sayangnya, kok di Transjakarta terjadi juga ya?

Terpaksa juga akhirnya memasuki Transjakarta yang penuh sesak seperti itu. Padahal penantiannya sudah lebih dari setengah jam. Aduh, saya termasuk orang yang mudah berubah raut muka kalau sudah menunggu Transjakarta. Menunggu dalam keadaan berdiri dan penuh sesak itu tantangan belajar sabar yang sesungguhnya, saudara-saudara. Apalagi plus ngantri panjang ditambah bulan puasa. Sebagai pelipur lara ya harus sedia iPod atau ponsel di genggaman.

Nah, cukup ya komplainnya haha. Ketika masuk di Transjakarta koridor berikutnya yang saya tumpangi, untungnya pas jam makan siang akan berlangsung. Sepi. Saya pun duduk di depan bersama para manula yang keliatan dari gaya-nya baru sekali naik Transjakarta. Dia dan seorang di sebelahnya bersautan mengomentari gedung Jakarta yang dilihatnya dari kaca bus besar di depannya.

“… Enak ya naik Transjakarta. Daripada naik angkot mesti turun lagi” kata seorang bapak manula sambil tetap memandangi gedung-gedung di seputaran Thamrin.

“Iya enak. Tapi lama banget nunggunya” kata temannya yang keliatan berumur tidak jauh dengan yang satunya.

Mendengar pembicaraan kedua orang tua tersebut, si pengemudi Transjakarta yang berjenis kelamin wanita pun menimpali “Sabar pak, jadi orang itu harus sabar. Penumpang suka nggak sabaran sih kalo nunggu busway. “

“Tuh kita harus sabar…” kata salah satu dari mereka mengingatkan diri masing-masing.

“Ohh, gitu. Harus sabar ya. Mbaknya juga udah sabar ya nyetir buswaynya” kata yang satunya lagi.

Entah pembicaraan itu membuat saya bingung arahnya kemana. Sabar? Trus, masalah selesai? Mulai lagi saya dengan pergolakan dalam hati yang sedikit mulai menyalahkan pemerintah karena ketidak tegasan dalam mengelola transportasi umum dengan baik.

Selang beberapa menit, belum ada lima menit malah. Tiba-tiba si pengemudi wanita itu marah-marah menyalahkan Transjakarta yang tepat didepannya berhenti di lampu merah yang sudah menyala hijau. Supir Transjakarta di depannya itu malah sempet-sempetnya Sholat Dzuhur di dalam bus disaat lampu merah menyala.

Yang lucu adalah pengemudi Transjarakta yang saya tumpangi itu mendadak marah-marah gitu sambil terus mengklakson panjang mobil Transjakarta di depannya. Hihi, melihat dia marah, langsung kedua orang tua tadi itu langsung menimpali, “Sabar mbak…sabar!Katanya tadi harus sabar”.

Susah ya ternyata aplikasinya? Bener-bener susah.

Dibalik kata sabar yang masing-masing ucapkan itu bukan sekedar suatu hal yang menurut saya harus dipasrahkan lalu tidak menghasilkan pengertian apa-apa. Tetep perlu ada ketegasan dibalik kesembrono-an manusia yang terkadang menilai dirinya selalu benar. Ironisnya, banyak orang yang kemudian menyalahkan keadaan orang lain tanpa melihat diri sendiri terlebih dahulu. Yang sebenarnya memiliki kelemahan yang sama atau bahkan hanya terletak di salah satunya.

Makanya, banyak pengendara motor yang sampai beradu urat menyalahkan pengguna mobil padahal dirinya sendiri yang menyalahkan aturan. Atau, kelakuan pengendara angkutan umum yang masih tanpa rasa berdosa parkir di urutan depan lampu merah yang menyala hijau. Hasilnya? Kebanyakan sabar mereka yang bersalah ini pun nampaknya merasa dirinya benar toh?

Bahkan, dikeadaan paling ‘gila’ sekalipun saya sempat menulis ini di akun twitter saya, “Jaman sekarang, yang waras harus banyak bersabar” — Haha, itu sih salah satu cara agar tetap merasa waras :p

Akhir kata, sabar tetap harus diuji, tapi ketegasan tetap tidak boleh luntur. Dikala hasilnya mengarah ke nihil? Yah, anggap saja kalian baru saja lulus ujian kesabaran dan dianggap (masih) waras. Hehehe.

Garage Sale!

In Uncategorized on July 7, 2011 at 7:18 pm

Pernah nggak ngerasa baju yang kita pake kok itu-itu aja ya? Atau ngerasa kekurangan baju formal kalau mau ke pesta? Padahal, setelah liat di lemari.. baju yang kita punya sebenarnya banyak bangettt, sampe lemari pakaian bisa tuh membludak!

Sampai suatu hari, saya baru sadar akan hal ini. Yap, mungkin kita pernah denger juga sebelumnya bahwa “One man’s trash is another man’s treasure!”. Saya tuh pernah menemukan baju yang sempat saya beli waktu kecil dan pake rengek-rengek dulu sama ibu. Hm, adalaahh baju terusan army yang saya beli di ITC Ambasador. Itu harganya.. (saya inget banget) 100 ribu, yang pada jamannya udah bisa beli dress yang bagusan dikit. Jujur, itu baru dipake satu kali dan terpaksa. Hehe, maklum saat itu saya lagi naksir-naksirnya sama yang berbau army – ulah naksir gebetan yang doyan sama army. Aduh, ampun! Haha.

Ketika ingin membuang junk dari lemari, entah itu baju yang kekecilan atau masih layak pakai tapi sayang dibuang, ya.. jangan dibuang. Solusinya, bisa kita donasikan atau lakukan Garage Sale. Membuat Garage Sale itu nggak susah kok. Semua itu butuh waktu, tenaga dan kemampuan marketing dimana kalian mengubah junk itu menjadi uang.

Nggak hanya itu saja sih, dari pengalaman saya melakukan Garage Sale berulang kali, saya jadi paham bagaimana menarik pembeli sebanyak mungkin. Lama kelamaan, pasti akan terlatih. Dan pastinya dibutuhkan kreatifitas yang baru untuk itu. Biar pembeli senang membeli barang dari kita. Mereka akan mikir walau barang bekas, tetapi masih layak untuk dibeli.

Okay, saya ada beberapa tips nih untuk kalian yang ingin mengadakan Garage Sale:

Ajak Teman

Ajak teman-teman untuk berpartisipasi dalam Garage Sale. Teman-temanmu ini bisa menaruh junk mereka di Garage Sale kalian. Tujuannya supaya stok barang-barang yang bagus itu bisa menarik perhatian pembeli. Semakin banyak stok barang-barang bagusnya, pasti makin diincar pembeli.

Beri Harga

  • Sempatkan waktu kalian untuk memberi label harga disetiap item yang akan ditaruh di Garage Sale. Sesuaikan pula dengan target pasar.
  • Untuk barang-barang yang sama bisa digabungkan kemudian diberi satu label harga. Cth: gelang 10rb (3 items)
  • Berikan harga dengan kelipatan lima agar memudahkan kalkulasi.
  • Untuk barang yang masih baru, beri harga sesuka anda. Tapi tetap terjangkau.

 People Love BOGO Sales

A BOGO stands for “Buy One Get One” dan ini bisa dipakai juga dalam Garage Sale. Buku, video, pakaian bayi, dan beberapa barang yang bagus bisa juga menggunakan tipe pricing ini. People love getting something for free, right? Hehe.

Clean and Fix It

Nggak ada yag suka membeli barang yang kotor. Walaupun barang bekas, tetapi kondisikan barang-barang tersebut masih dalam keadaan layak pakai dan tidak mengurangi minat pembeli saat melihat-lihat. Cuci dahulu sebelum di display ketika Garage Sale berlangsung. Apabila ada pakaian yang harus di permak terlebih dahulu, datanglah ke tukang jahit untuk memperbaiki bagian yang perlu di permak. Atau kalian bisa berkreasi membentuk barang lawas itu menjadi trend/unik sehingga menarik untuk dibeli.  It may sound like a big job, but it is worth it. In fact, often after we clean or fix something, we decide to keep it. 

Sebarkan!

Poin paling mudah kelihatannya, tapi ini sangat butuh waktu luang dan tenaga yang cukup bila kalian melakukannya secara individual. Untuk desainnya bisa dilakukan sekreatif kalian. Silahkan buat satu poster yang bisa digunakan untuk menarik pembeli untuk datang. Sebarkan pula flyer di sepanjang jalan sehingga orang lewat pun menyadari dan akhirnya mau mampir ke tempat kalian.

Remember the Important Points

  • Beri hari dan tanggal Garage Sale-nya
  • Beri tahu juga alamat yang jelas tempat Garage Sale berlangsung
  • Beri tahu lokasi/symbol  yang kira-kira bisa membantu pengunjung menemukan dimana rumamu. (cth: depan depot pengisian air isi ulang)
  • Beri tahu juga secara spesifik barang-barang yang kalian jual di Garage Sale seperti, pakaian bayi, mainan, furnitur, kemeja, dll.
  • Beri tahu juga merk atau brand seperti Zara, Charles & Keith, dll.
  • Beri tanda di pintu masuk gang atau diujung jalan sebagai petunjuk menuju Garage Sale kalian. Usahakan beri tanda dengan tinta yang waterproof sehingga apabila hujan, tidak merusak petunjuk yang sudah kalian buat.
Merchandising Your Items

Garage-sale hunters suka  mencari barang-barang yang menarik. Jadi, kalian harus ingat dimana lokasi barang-barang yang kalian taruh. Jadi, saat mereka mencari dan menanyakannya kepada kalian, dengan mudah langsung bisa kalian tunjukan.

  • Jangan menaruh kotak barang-barang di lantai. Tentu tidak semua calon pembeli mau membungkuk untuk mencari-cari barang yang diinginkan.
  • Gantung pakaian yang bagus seperti dress, blazer, jaket, dll.
  • Pisahkan letak pakaian berdasarkan harga dan juga berdasarkan kategori.
  • Berikan juga keterangan harga di setiap kumpulan barang-barang kalian.
  • Berikan juga display pakaian atau barang-barang dengan manekin sehingga pembeli yang kebetulan lewat dengan mobil bisa melihat sekilas sehingga tertarik untuk datang ketempat kalian.
  • Jangan disangka pelanggan pria lebih sedikit dibanding dengan wanita. Malah justru pria sangat suka sekali dengan Garage Sale. Tentunya bisa mendapatkan treasure yang masih bisa digunakan. Usahakan stok untuk pria juga sesuai dengan jumlah stok barang-barang wanita.
  • Saat hari sudah dekat, dan siap untuk dibuka. Sebelumnya kalian harus siapkan barang-barang ini:
    • Sediakan kalkulator, bolpoin, dan plastik.
    • Sediakan juga uang kecil untuk kembalian.
    • Sediakan security box untuk menempatkan uang kalian. Sehingga transaksi berjalan dengan aman.
    • Sediakan juga radio atau music player sehingga pembeli bisa diselingi musik saat melihat-lihat barang. Atau bisa juga, voluntir dari teman kalian yang kebetulan ingin membuat music corner sebagai hiburan.
The Day of Your Garage Sale

Sebaiknya hindari  untuk mempersilahkan pembeli yang datang terlebih dahulu.  It is considered discourteous to those who respect your advertised time.  Dan apabila ada pembeli yang ingin pergi ke kamar mandi, jangan sembarangan mempersilahkan orang lain masuk ke dalam rumah yaa!

Clean Up

Setelah selesai, bersihkan semua sampah yang berserakan dan kembalikan lagi barang-barang itu pada tempatnya. Apabila kalian tidak ingin menyimpan barang-barang itu terlalu lama, silahkan saja donasi untuk orang yang lebih membutuhkan. Lastly, grab a hot cup of coffee, go sit in your favorite chair, and count all the money you just made from your hard work. 

Pencitraan

In Uncategorized on April 18, 2011 at 1:23 am

08: 22 Am

Hari ini berhasil ngebuat mata melek sampai pukul 8 dikarenakan harus ngerjain tugas akhir. Ajaibnya saya sama sekali nggak bikin kopi untuk membuat mata ini kuat mantengin layar komputer. Jadi, berbagai aktivitas yang gila pun terjadi di jam-jam bebas dini hari tadi. Mulai dari buat martabak alakadarnya, karaoke buat pemanasan konser, joget-joget  sambil dengerin lagu  rock sampai berhenti pada satu posting-an yang membuat saya bener-bener melek mata dan pikiran.

Kalau mau dikaitkan dengan thesis saya, bentuk dari postingan ini memang mirip sebuah thesis mini. Hehe, penasaran kan? Baca sendiri deh..


Begini ceritanya,

Ketika teman-teman saya di sini mulai bertanya-tanya dan mengklaim bahwa saya seorang social networking freak, karena saya memiliki semua account social networking (padahal cuma FB, twitter, blogspot, tumblr, Foursquare, serta account keartisan berlabel (namasaya).com belaka) dan juga rajin meng-update status-status dari penting maupun tidak…maka saya pun mulai tergerak untuk mengamati dan menganalisa. Lalu saya pikirkan dan kaji berulang-ulang. Ini kebiasaan buruk saya sejak balita: memikirkan hal tidak serius dengan sangat serius, dan memikirkan hal serius dengan sangat tidak serius. Ya, saya pun meluangkan waktu untuk menyelidiki hal ini disela-sela kesibukan saya sebagai pelajar, model videoklip (yang saya bikin atas keinginan sendiri), pengamat fashion ibu-ibu, penganalisa sepatu bapak-bapak, pembuat camilan untuk anakmuda, dan tentu saja profesi utama saya sebagai drama queen.

Penelitian pop culture saya kali ini akan saya beri judul:

“Fenomena Social Networking dan pengaruhnya terhadap Pencitraan “

Saya harap tidak ada pembaca yang tersinggung jika merasa saya bahas, karena saya tidak membahas individu, melainkan fenomena yang memang terjadi saat ini. Dan ingat, pembahasan ga penting ini seperti biasa akan saya sajikan melalui pendekatan scientific dan diusahakan kontekstual dengan ilmu yang saya pelajari secara akademis. Jadi, saya jamin…semua yang akan saya kemukakan adalah beralasan dan berlatarbelakang yang masuk akal.

Di saat The Social Network tidak memengkan Oscar, maka saya hanya akan menampilkan quote pendek dari film tersebut.

Mark Zuckerberg: People want to go online and check out their friends, so why not build a website that offers that? Friends, pictures, profiles, whatever you can visit, browse around, maybe it’s someone you just met at a party. Eduardo, I’m not talking about a dating site, I’m talking about taking the entire social experience of college and putting it online.

Selanjutnya, tulisan saya akan dikaitkan dengan segala sesuatu yang berbau internet. Ternyata ada kehidupan berbeda di luar kehidupan nyata kita ini.

Begini,

Seorang Anthony D. King pernah mengklasifikasikan bangsa di dunia menjadi 2 kriteria, begini yang saya kutip dari buku yang diedit oleh Nezar Alsayyed, Forms of Dominance on the Architecture and Urbanism of the Colonial Enterprise.:

“The world was divided into two kinds of peoples and two types of societies:

-powerful, administratively advanced, racially Caucasoid, nominally Christian, mainly european, dominant nations. and

-powerless, organizationally backward, traditionally rooted, dominated societies.

In short, in the early communication and exchange between cultures, the world was divided into colonizers and natives, with both parties recognizing and acknowledging this distinction.”

Sudahlah baca sekilas, dan mari masuk ke pembahasan yang penting. Bahwasannya…bangsa kita, bangsa Indonesia pada masa dijajah dulu, termasuk kepada kategori kedua, yaitu bangsa yang powerless, organizationally backward, traditionally rooted, dominated societies.

Tidak usah sedih dan merasa terhina, ini adalah pendapat teoritis seseorang berdasarkan fakta dan ilmu yang dimiliki. Namun begitulah adanya! Pada masa penjajahan, kita adalah termasuk kepada bangsa seperti itu. Ketika sekarang bukanlah lagi jaman penjajahan, apakah kita sudah tidak lagi menjadi seperti itu?

Mari kita bahas satu-satu, saya janji….ini akan berkaitan di suatu titik temu kepada adiksi kita terhadap pencitraan di social networking.

l a n j u t…

OK,

Ternyata sulit untuk tidak menjadi seperti itu. Bahkan bertahun merdeka, kita masih saja menjadi negara berkembang, belum negara maju. Mungkin kita bukan bangsa yang powerless, namun terkadang terlihat demikian adanya. Karena tanpa disadari, kita saling menjatuhkan satu sama lain. Alih-alih bersatu, kita masih saja berkutat dengan siapa yang benar dan siapa yang salah, yang benar harus diangkat, yang salah harus dibasmi. Sikap tersebut BETUL! Tapi yang mana yang benar? siapa yang salah? Semua selalu berkembang menjadi sebuah ambivalensi. Parahnya, sebuah ambivalensi yang terkadang sangat terstruktur. Jadilah tampilan luar kita: powerless.

Itu soal powerless. Bagaimana dengan traditionally rooted? Tidak ada salahnya mengedepankan sebuah tradisi di atas modernitas. Namun akar budaya yang seperti apa yang harus dipertahankan ke dalam konteks kehidupan? Berpikir secara open-minded adalah kuncinya. Ketika pikiran telah terbuka lebar, dengan mudahnya kita akan mengaplikasikan unsur tradisi kita tanpa mengganggu tradisi lain yang berbeda dengan akar budaya kita. Ingat, terbuka bukan berarti 100 % menghilangkan tradisi kita dan menggantinya dengan unsur budaya lain.

Yang menarik tentang membuka pikiran adalah ketika saya menghadiri sebuah seminar mengenai kebudayaan dan tradisi. Sebetulnya seminar ini diadakan untuk mengatasi culture shock siswa asing yang baru datang ke Jerman, yang tentu saja budayanya berbeda. Seminar ini sangat panjang dan melelahkan namun sangat menarik, apalagi ketika mengetahui cara pandang budaya-budaya dan tradisi di belahan dunia lain. Yang saya ingat dari seminar ini adalah ketika sang pembicara mengatakan bahwa pentingnya berpikiran terbuka, intinya…it’s ok to be different. Dan yang penting lagi adalah, kita harus juga menerima perbedaan tersebut tanpa memikirkan bahwa itu benar atau salah. Terkadang ada hal-hal yang memang harus kita cerna dan tidak usah dikonfrontasi. Inilah di saat kita harus menerima bahwa ada kalanya kita memang harus hidup berdampingan saja, tidak usah mengganggu satu sama lain.

Putri Masako asal Jepang pun berkata seperti ini:

At times I experience hardship in trying to find the proper point of balance between traditional things and my own personality.

Jadi, ketika terjadi konflik bathin antara tradisi dengan pribadi, sebetulnya itu sangat wajar, kita hanya harus berlatih dengan membiasakan untuk mencari titik keseimbangan antara tidak melupakan tradisi dan tetap berada di lajur keterbukaan akan modernisasi.

Nah, mungkin ini adalah poin yang penting untuk membahas topik kita (HAH? jadi daritadi belum?!!!!)

d o m i n a t e d  s o c i e t i e s

Hal ini sebetulnya berkaitan dengan essay panjang saya tentang kodependensi. Di notes sebelum ini. Yang berminat silahkan dibaca, yang ga berminat ya tidak usah, karena memang panjang. BLAH.

Yang sangat mendominasi di kehidupan bangsa Indonesia adalah societies. Yep, masyarakat. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal ini. Toh, sedari kecil pelajaran di sekolah kita mengajarkan untuk selalu mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Mengutamakan kepentingan golongan di atas kepentingan individu. Sebetulnya, ini agak bertentangan dengan dengan jargon yang menurut saya lebih masuk akal “Stop trying to please every one, live your way”.

Saya lebih menyetujui jargon ini, karena lebih masuk akal. Karena sebetulnya kita harus berfokus kepada kebahagiaan kita, dan ketika kita sudah dalam keadaan nyaman dan bahagia terhadap diri kita sendiri dalam artian memenuhi kepentingan kita, otomatis kita tidak akan menyusahkan oranglain dengan kepentingan-kepentingannya yang bermacam-macam dan berbeda-beda.

Karena society atau masyarakat sangat berperan dalam kehidupan kita, maka di sini pulalah terkadang pendapat masyarakat menjadi sangat penting bagi kita. Kita dipandang dan dilihat oleh masyarakat…Lalu timbul pertanyaan…’Gimana ya pendapat masyarakat tentang saya?’ Dan inilah yang lalu berkembang menjadi pencitraan: anggapan masyarakat terhadap diri kita.

Lucunya, karena kehidupan kita didominasi oleh pendapat masyarakat, maka seringkali apa yang kita lakukan berkiblat kepada masyarakat. Bukannya berpikir apa efeknya terhadap kita, yang lebih penting adalah efeknya terhadap masyarakat. Termasuk ketika kita memberitakan keadaan kita. Percaya atau tidak, lebih banyak ‘hidden agenda’ dibanding ‘sincerity’ dibalik kehidupan yang berfokus kepada society.

Hal inilah kemudian yang membuat orang-orang merasa nyaman berada dalam lingkup social networking. Di mana setiap orang bebas membuat pencitraan tentang dirinya dan bebas berharap seperti apa reaksi orang yang membacanya. Saya yakin, banyak sekali orang yang membuka account social networking dengan mencantumkan data diri yang tidak sebenarnya, dan tentu saja dengan tujuan berbeda-beda. Mungkin agar terlihat keren, atau malah biar terlihat jelek, atau memang dia tidak ingin diketahui saja identitas dirinya. Macam- macam, dan memang itu hak individu masing-masing.

Sahabat dekat saya bahkan mengatakan, “Facebook is a tool to make you look better, smarter, and any other things that you choose to be.” BENAR. Tinggal set dan cantumkan kita bisa berbahasa A, B, dan C, maka masyarakat pengguna Facebook akan manggut2 dan mengira bahwa kita bisa menguasai itu ini dan inu. Kita bahkan dapat menuliskan bahwa kita tinggal di Beverly Hills 90210, tanpa kita sebenarnya pernah ke Amerika. Atau taruhlah kita adalah Owner dari perusahaan Blabliblu, padahal perusahaan tersebut tidak pernah ada. Itu baru pencitraan mengenai diri kita. Bagaimana dengan keadaan aktual kita?

Teman saya asal Jerman pernah bertanya, kenapa saya begitu rajin mengganti-ganti status Facebook. Dan pertanyaan paling nendangnya lagi adalah ketika dia sudah mulai bertanya “why is it so important to make the world know, what you are recently doing?” Saya cuma bisa cengangas cengenges ketika ditanyakan hal seperti itu. Karena memang tidak penting, saya lalu menjawab “Nothin’ it’s just something that I do for living…Giving the actual facts about me, because I am fabulous.”  Ya tentu saja saya menjawabnya bercanda. Namun diam-diam saya juga mengadakan analisa. Membuat perbandingan keadaan FB teman-teman saya yang berkebangsaan Jerman, dengan teman-teman saya yang bukan orang Jerman. Baca: teman-teman di Indonesia.

 (nb: perlu diketahui, bahwa saya selalu bermain dengan orang2 latin yang juga hedonis seperti saya…nyiehehehe…menurut saya orang-orang Jerman itu sangat baik dan tulus namun terkadang terlalu serius..)

Jadi, hasil pengamatan saya terhadap update status orang Jerman adalah mereka sangat jarang menuliskan update status yang sifatnya personal. Mereka Lebih banyak yang mencantumkan berita2 aktual, ataupun quote dari mana-mana. Tidak seperti teman-teman saya di Indonesia (termasuk saya tentunya…kan saya yang ditanya tadi…). Seringkali status Facebook yang dicantumkan adalah yang sifatnya personal.

Misalnya:

 

“Aku benci kamu! Kamu seperti sawah yang tak pernah disiram. Sana… Go to Hell!”

“Duh baru potong rambut nih, abis ini beli Skateboard ah”

“Sedih deh, lampu kamar mati. Tapi lampu taman nyala”

atau yang lebih rumit dan panjang:

“Aku kenal sama dia, tapi kok dia ga kenal sama aku ya? Aku yakin dia bohong, aku bisa melihat dari bentuk ubun-ubunnya yang mirip sama kucing aku. Jangan kira aku berbohong deh, aku kan rajin nonton Lie to Me. Aku tau sih kamu sukanya Gossip Girl, tapi biasa aja dong. Emangnya elo Serena Van der Woodsen? Sana ke laut aja lo. Mending belajar, besok kan ulangan Biologi”

atau yang sifatnya pamer:

“Duh, beli rumah udah, apartemen udah 3, beli apa lagi ya? Asik…beli siomay ah. Lapar”

“Bosen deh kemanamana naik Jet Pribadi. Mudah2an minggu depan bisa naik sepeda ke sekolah”

atau yang romantis dan penuh cinta dan kaya drama:

“kangen banget sama kamu , dan mantan kamu si itu, dan mantannya mantan kamu. Duh kok aku kenal mereka sih?”

“belum pernah jatuh cinta kaya begini. Eh tunggu bentar…pernah ding…tapi lupa kapan”

“kenapa sihhhh aku mesti tau kalau kita kakak adik, padahal kan minggu depan kita menikah”

atau yang pake bahasa inggris tapi salah dan …ehmmh:

“is miss you”

“you doesn’t know what i’m talk”

“they goes to school with she”

dan lain lain sebagainya

(btw, itu semua status palsu bikinan ya….ada sih yang beneranya…ehmmhmm)

Demikianlah terbukanya kita atas hal-hal yang sifatnya personal. Ini juga setelah saya melakukan pengamatan dan jajak pendapat kepada teman saya yang tadi bertanya-tanya kepada saya. Dia lagi-lagi berkata “I don’t share personal thing to public”, atau adalagi orang yang selalu remove tag terhadap semua foto yang saya tag ke dia. Alesannya “I don’t want people to use my picture. There are so many misused and spam using our picture on the internet these days”

Belum lagi yang dipertanyakan adalah jumlah teman saya yang di atas seribu. Teman-teman kantor saya di Munich selalu bertanya, “Do you know every one of them?” dan saya selalu bilang, tidak. Lalu mereka pasti melanjutkan bertanya, “What is your purpose to make this account?” ,menurut mereka itu penting juga. Karena mereka bisa mentolerir jika saya memang membukanya untuk memperluas pergaulan untuk menjaring teman-teman baru. Namun jika memang untuk teman-teman dan keluarga yang dikenal, untuk apa meng-approve semua friend request. Akhirnya…saya setting hidden jumlah teman saya, agar mereka tidak lagi banyak cing cong.

Fenomena yang saya bahas di atas adalah berbatas Facebook. Tentu saja banyak hal lain bermacam-macam. Twitter adalah sarana yang juga sangat gampang untuk membuat pencitraan. Tulis saja apapun, dan orang akan mencitrakan sesuai dengan tweet kita. Yang lain lagi, Foursquare misalnya, menitikberatkan pada check in di suatu tempat. Berapa banyak dari kita yang memang benar-benar mengunjungi tempat tersebut? Atau memang hanya membuat pencitraan, as if you were really there?

Didominasi oleh kehidupan bermasyarakat membuat bangsa kita terlalu hati-hati dan tidak nyaman di kehidupan nyata. Diperhatikan dan ingin selalu dipandang positif dan baik oleh masyarakat membuat orang-orang menjadi lebih nyaman untuk ‘jadi apa yang diinginkan’ di dunia maya, namely: social networking. Bahkan banyak sekali orang-orang yang tampak seperti memiliki dua kepribadian. Pribadi di dunia nyata, dan pribadi di social networking. Banyak sekali orang pendiam yang menjadi begitu ‘talkative’ ketika dituntut berbicara kurang dari 140 characters di twitter. Banyak sekali orang yang menguasai bahasa Asing di Facebook, namun tidak ketika di dunia nyata. Semua orang tampak memiliki pekerjaan di dunia social networking, ketika pada dunia sebenarnya begitu banyak pengangguran. Begitu banyak ketidaksinkronan antara dunia maya dan dunia nyata.

Seperti ketika seharusnya saya mengetik tesis saya di dunia nyata, saya malah menuliskan hal ini di account social networking saya. Apalagi alasannya kalau bukan untuk pencitraan belaka.

*posting-an tersebut dibuat oleh Tasya Mustaram di Notes Facebooknya: http://ow.ly/4C9XE

Go, and say i love you daddy!

In eat movies, Uncategorized on April 13, 2011 at 9:28 pm

 

 

Self Expression

In eat movies on March 1, 2011 at 5:56 am

Try it.

Tell someone how you feel today.

You won’t regret it.