agastrigi

Author Archive

Believe Yourself

In Note to self on February 24, 2011 at 9:25 am

Saya meyakini sebuah prinsip “We are what we believe”. Diri kita adalah hasil dari pengambilan keputusan kita. Tuhan memang selalu ada dalam setiap langkah kita tapi saya meyakini Tuhan menyerahkan kepada diri kita sendiri dalam mengambil setiap keputusan hidup.

Keputusan- keputusan kita, dalam keseharian kita, begitu banyak. Setiap keputusan yang kita ambil menentukan arah kehidupan kita selanjutnya. Seperti buku “Pilih Sendiri Petualanganmu”. Di jalan menuju kerja, kita berpikir, “Belok kiri atau kanan, yaa?” “Ambil jalan Sudirman aja dan berharap polisi ga merhatiin, atau nyari jalan lain yg ga 3 in 1? Atau… ambil joki?” Setiap keputusan tersebut langsung berkaitan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita.

Detik demi detik.

Keputusan kita yang besar tentunya akan memberikan dampak yang lebih besar lagi dari sekedar belok kanan atau kiri. Tapi besar ataupun kecil keputusan itu, akan membentuk hidup kita.

Diri kita adalah koleksi keputusan kita. Saya jadi seperti hari ini, karena suatu hari saya memutuskan untuk melihat prioritas. Bukan melihat kebelakang dan berjalan mundur.

Saya lalu memutuskan untuk memilih Media Indonesia sebagai tempat internship pertama saya di bulan Agustus 2010. Kalau diperkirakan jaraknya, memang sama dengan jarak tempuh Jakarta – Bandung.  Apalagi saat itu, empat orang teman perjuangan saya satu-per-satu gugur dan memilih untuk resign. Jadilah saya yang menjadi tameng untuk menjaga nama baik universitas. Masalah pulang dari kantor pun selalu menjadi pertanyaan, “Hari ini pulang gimana ya? Jam brapa ya?” Maklum, modalnya belom sampe punya kendaraan sendiri. Nekat, modalnya.

Agustus 2010 – Oktober 2010

Keputusan demi keputusan mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang hebat. Mas Gantyo, begitu saya memanggil atasan saya yang merupakan Wartawan Senior MI.  Karena  pekerjaan sampingannya juga sebagai Dosen, maka tak jarang Mas Gantyo keluar kantor di jam-jam lebih awal, yaitu siang atau sore hari. Dan pada suatu hari saat menjelang sore, tiba-tiba beliau menawarkan tumpangan untuk saya, “Astri, mau nebeng nggak? Saya arah ke Pasar Minggu nih”.

Haha. Bukan soal tumpangannya saja yang ingin saya ceritakan. Entah kenapa, selama berada di Media Indonesia selalu saja ada jawaban disetiap pertanyaan. Hehe. Kalau tadi pertanyaannya Bagaimana pulangnya, saat itu berubah menjadi cerita-cerita lucu saat pulang kantor. Termasuk, ada yang mendadak memberi tumpangan saat Bulan Ramadhan. Semoga budi baiknya nggak saat Bulan Suci aja ya, mas! haha.

Selama di perjalanan pulang, Mas Gantyo bercerita tentang hobinya dalam menulis lirik lagu. Salah satunya, lagu yang sudah ia rekam secara indie untuk gerejanya. Saat itulah hubungan saya dengan beliau tidak lagi soal pekerjaan media. Melainkan menggarap salah satu lagunya yang kebetulan bertema sosial.

Selain beliau, saya juga bertemu dengan Mas Rully yang telah mengajarkan saya banyak hal dalam menghadapi klien. Ini lebih kepada management perusahaan. Dengan berbekal secangkir kopi di sore hari dan memanfaatkan jam kerja untuk istirahat sebentar, beliau banyak menasehati saya sebelum saya meninggalkan MI karena masa internship yang  sudah habis.

Pada intinya sama, kita hanya tinggal percaya bahwa kita bisa melakukannya. Ketakutan pada awal saya melangkah masuk ke MI saat itu, beratnya pekerjaan, mobilisasi yang susah karena terhambat kendaraan itu semua terbayar saat diakhir ketika kita menjalaninya dengan ikhlas. Nggak percaya, saat itu saya bener-bener berkata ini pada diri sendiri. Yes, you did it, Astri!

Ada hal lucu yang akhirnya menjadi bagian hidup saya ketika berada di MI. Hal lucu yang pertama, yaitu ketika saya bertemu dengan seorang freelance reporter Metro TV. Kami sering berpapasan. Liat-liatan. Salah tingkah. Papasan. Liat-liatan. Salah tingkah. Tiba-tiba dia ngajak kenalan di depan newsroom kerja saya. Walaupun skenarionya udah kebaca sih, dia membuntuti saya dari belakang. Hihi, karena ruang kerja di MI didominasi kaca, maka aksi perkenalan saat itu kurang membuahkan hasil yang baik. Bisa-bisa jadi tontonan editor dan antek-anteknya, pikir saya saat itu. Saking salah tingkahnya, jadilah saya lupa nama dia siapa. Sampai. detik. ini. hahaha..

Pengalaman menariknya ada lagi ketika perjalanan saya ke MI dengan menggunakan Patas 138. Tak ada yang lebih mengasikan ketika sedang berada di bus yang tidak penuh penumpang, duduk di kursi paling depan yang sendiri, melihat keluar jendela, sambil mendengarkan iPod  dan menikmati semilir AC bus yang dingin membuat ngantuk. Cerita lucu-nya berawal ketika ada beberapa pengamen memilih masuk ke bus yang saya tumpangi. Kedatangannya pun saya tidak tahu. Tiba-tiba mereka sudah masuk dan mulai menyanyikan lagu di tengah bus.  Ketika saya siap beranjak turun dengan membereskan iPod, salah satu dari mereka mengatakan ini “Lagu ini untuk mbak yang ada di depan sana. Semoga, dapet pacar baru ya”. Langsung saya melihat kanan dan belakang saya. Mereka rata-rata orang tua. Makinlah saya sadar, mereka itu barusan ngomong sama gue ya? Langsung saya mengambil ancang-ancang turun dari bus tanpa melihat ke arah mereka. Dan salah satu dari mereka menimpali lagi, “Hati-hati di jalan ya mbak!”

Sesampainya di kantor dengan penuh tanda tanya, saya pun langsung mengamini perkataan mas-mas pengamen itu. Haha. That was so weird. But, maybe God was trying to tell me something *paint smile*

Februari 2011

Kejadiannya baru tadi malam. Ketika saya lancang membuka salah satu folder bertuliskan save.my.soul milik teman saya di handphone yang ia pinjamkan kepada saya untuk sementara waktu. Beberapa pesan singkat itu ada yang berasal dari saya sendiri. Pesan-pesan itu berakhir haru karena sebagian isinya bertema perpisahan saat dia hendak pergi ke negeri sebrang untuk sekolah. Kemudian saya menemukan kalimat ini:

“Hidup itu penuh dengan tangis bahagia. Bakar sehari sedihmu, jadikan lima tahun bahagia-mu.”

Dan saat ini saya melihat sosok yang jauh lebih bahagia dan membanggakan di diri teman saya itu.  So, you know what do you believe right now? Yes. Yourself.

You know yourself, you know your capacity. You’ll work toward it, you’ll try to make your parents proud with the best way. Don’t believe the naysayers! Whoever says that you’re gonna fail, they’re wrong! Who are they? They’re not God!

Advertisements

Surat Untuk Firman Utina

In Uncategorized on December 28, 2010 at 4:26 pm

Saya terharu membaca ini. Ya, ini adalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang pengocek bola, E.S. Ito (Novelis Negara Kelima dan Rahasia Meede) – twitter: @es_ito . Semoga saja, Firman Utina dan kawan-kawan dapat mengecap manis rasa tinta di surat ini. Sehingga tanggal 29 Desember nanti, mereka bisa bermain tanpa memikirkan ‘urusan’ apapun. Saya jadi teringat film The Last Samurai. Nobutada pernah mengatakan ini kepada Nathan Algren disaat dia tengah belajar samurai.

Mind the sword, mind the people watch, mind the enemy, too many mind. Don’t mind!”

Kita yang seharusnya belajar banyak dari sebuah pertandingan Final AFF kali ini. Pemenang sejati tidak terletak pada kalah atau menang dari 90 menit di lapangan hijau besok malam. Pemenang sejati hanya perlu membuktikan itu kepada dirinya sendiri. Dan hanya ditujukan kepada satu hal, yaitu rasa takut.

***

SURAT UNTUK FIRMAN UTINA

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi.

Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri.

Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola.

Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara.

Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Everybody is a teacher: “I want to teach children not to litter.”

In Laporan pandangan mata on December 13, 2010 at 10:23 am

Tiara Karina Pandiangan,Six-Year-Old Environmentalist

If a 6-year-old girl called you out for littering, how would you feel? Probably deeply embarrassed at first. Tiara Karina Pandiangan may look too cute to scold anyone, but she is serious about saving the environment and will call you out if your trash fails to find the bin. She’s got 600 pins to prove it. Today, Tiara explains what motivates her, tells us why we shouldn’t litter and reveals why she would never have a pet turtle.

What are you doing here in Menteng Park today?

I’m here for an interview.

I see. And you brought pins and stickers, too.

Yes, I’m going to hand them out. I give people a sticker and a pin and I ask them not to litter. Once, I saw a kid drop some trash on the ground and I shouted from my house, ‘Hey, don’t litter!’

Does anyone ever get upset when you approach them? Do they ever say that it’s none of your business?

Never. Sometimes I don’t say anything. I just pick up the trash and show them the trash can. The other day, I was at a park near my house and I noticed there was trash on the grass. I want to make a sign and put it up in the park so people know not to litter.

You have two kinds of pins. Can you tell me what they say?

It says ‘Don’t Litter. Small Actions, BIG Changes.’ This one says the same in Indonesian. ‘Jangan Nyampah, Dong!’ I’m going to make more pins with my designs. The next batch will say ‘Bin It, Don’t Throw It.’ That one is for people who roll down their windows and throw trash out of their car.

Who do you give the pins to? Strangers?

Yes, strangers, so they know that we shouldn’t litter.

Why is it important to teach people not to litter?

Because it could destroy the earth. If that happens, we will be extinct, and I don’t want that to happen, right? So we have to look after the earth, take care of it.

What do you think of Jakarta? Do you think there is a lot of trash in the city?

In Rasamala [a neighborhood in South Jakarta], there’s usually a lot of garbage. It’s everywhere, even though there are plenty of trash bins.

So you’re running this campaign alone?

Yes. Maybe there are people who would be willing to help.

Are your friends at school like you?

When my friends are with me, they put the garbage into the bin. But other kids litter if they don’t know me.

Do you think there are many other kids running anti-littering campaigns like you?

I don’t think most kids get involved in campaigns like this, but I had to start a campaign to urge people not to litter so that the earth won’t be destroyed.

What made you want to start helping the environment?

My mom once showed me a reusable bag, something that can be used again and again that we don’t throw away. I have a bag made of Sunlight pouches. Sunlight is for washing the dishes.

You also carry a Winnie the Pooh bag with you. What do you use it for?

I use this bag when I pick up rubbish, but I can use something else. We must ‘reduce, reuse, recycle, replace.’

Do you think your campaign will be a success?

I’m sure it will be because it’s time to be successful. Plus, I have a lot of pins and stickers here.

Can you tell us about the T-shirt you’re wearing?

I’m wearing a rhino T-shirt. I also have other T-shirts but I’m not wearing them today. I have an orangutan one and a WWF shirt, but I’m not wearing them.

You also care about animals, don’t you?

Yes. Oh, and I also have an elephant T-shirt. An elephant that can paint. It says ‘Save the Elephant’ on the front. That’s the Sumatran elephant.

You are also a member of WWF. What does WWF stand for?

World Wildlife Fund. We have to help animals that are almost extinct. We save turtles so they won’t be extinct like dinosaurs. Where’s my turtle book? [Finds it in her bag and starts reading.] Let’s save the turtles so they wont be extinct like the dinosaurs.

For your birthday this year, I heard you ran a campaign to save baby turtles.

By the time I grow older, they will be gone. Let’s be friends with turtles. We should not spill oil or throw garbage, so they won’t become extinct. In Indonesia, we have olive ridley and green turtles.

Have you seen turtles in the wild?

Only at SeaWorld. And I’ve seen the tukik [hatchlings] on TV.

Do you want a turtle as a pet? If you could keep one at home, would you?

No, because it’s not right to take turtles from the wild. Later it might die.

Jakarta has many topeng monyet [masked monkey performances]. How do you feel when you see them?

If people keep taking monkeys from the forest, they will end up like the orangutan. I feel sorry for them, they belong in the wild.

Titi, when you grow up, what do you want to be?

A teacher. I want to teach children not to litter.

Obama Speech for Indonesia

In Uncategorized on November 11, 2010 at 2:03 am
That is not to say that Indonesia is without imperfections.  No country is.  But here we can find the ability to bridge divides of race and region and religion — by the ability to see yourself in other people.  As a child of a different race who came here from a distant country, I found this spirit in the greeting that I received upon moving here:  Selamat Datang.  As a Christian visiting a mosque on this visit, I found it in the words of a leader who was asked about my visit and said, “Muslims are also allowed in churches.  We are all God’s followers.”

Banyak Jalan Menuju Roma

In Note to self on November 3, 2010 at 6:34 pm

Ini bukan hasil jepretan saya kok. Hehe, ini dia salah satu kebetulan saya setelah melancong ke Kota Kembang bersama Leonardo Da Vinci. Foto-foto ini adalah hasil jalan-jalan seorang backpacker yang juga berprofesi sebagai wartawan senior sebuah harian nasional terbitan ibukota, Elok Dyah Messwati.

Pada awal pertemuan dengan Mbak Elok, saya masih berstatus magang di tempat yang sama dengan beliau. Dia menanyakan hal ini kepada saya, “Kamu serius mau jadi wartawan?”. Kemudian saya jawab, ”Saya ingin belajar di dunia yang selama ini saya geluti”.

Selayaknya pertanyaan tadi, mungkin jawaban saya kurang pas. Menjadi jurnalis memang cita-cita saya. Tapi bukan puncak tujuan hidup saya yang terakhir. Mungkin saya pernah menulisnya di blog yang terdahulu. Saya ingin menjadi enterpreneur tanpa harus mengesampingkan hobi menulis.

Pembicaraan yang tak terbilang singkat itu berlangsung diantara saya dengan Mbak Elok di bilik tengah kantor yang bersekat empat itu. Beliau kemudian menceritakan passion-nya di dunia traveling. “Banyak orang yang tanya kenapa aku bisa sempet pergi ke beberapa negara dalam seminggu. Halllooo, kan ada cuti. Mereka yang biasanya gunakan untuk santai di rumah leyeh-leyeh. Ya kalo aku mending pergi backpacker keliling dunia” ucap Elok dengan gaya bicaranya yang khas.

Kemaren baru saja membaca buku The Naked Traveler, karya Trinity. Sekarang malah bertemu dengan seorang yang memiliki hobi yang sama namun beda nama. Mbak Elok, begitu saya akrab memanggilnya, kemudian memintaku untuk mengunjungi Komunitas Backpacker Dunia. Hihi, dengan senang hati, Mbak!

Facebook: Backpacker Dunia
Twitter: BackpackerDunia
Email: backpackerdunia@yahoo.com
Milis: http://groups.yahoo.com/group/backpackerdunia
Blog: http://backpackerdunia.multiply.com/

Sejak obrolan kami waktu itu, saya pun kembali mengingatkan diri saya akan mimpi pergi ke Italia. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”. Semoga saja ini bukan angan-angan belaka. ITALY, suatu hari nanti.

Kembali ke pembicaraan awal. Rencananya, wanita kelahiran Surabaya, 5 Agustus 1969 yang sejak kecil memang hobi menulis dan jalan-jalan ini, ingin serius menggarap buku-buku traveling. “Saya memang menyukai travelling sejak kecil. Suamiku juga sudah hafal dengan hobiku ini. Dan dia juga selalu bersedia berkeliling ke sejumlah negara bersamaku” ucap wanita yang baru saja meluncurkan buku perdananya; Backpacking Hemat ke Australia.

“Semoga setelah buku Backpacking Hemat ke Australia ini akan ada buku-buku traveling lainnya yang akan saya tulis dan terbitkan. Buku kedua sedang saya usahakan. Hingga sekarang masih ngumpulin bahan. Maunya sih diberi judul yang sama dengan album foto saya di Facebook, Mimpi Eropa. Ditunggu aja ya!” tambahnya memberi bocoran.

Selain soal passionnya yang membuat saya tertarik, Mbak Elok juga mengajarkan saya bagaimana menjadi enterpreneur sejak dini. Hal ini datang karena beberapa muda-mudi sering kali bertanya kepadanya mengenai pekerjaan, “Cariin aku pekerjaan dong mbak!”

“Mending kamu usaha sendiri. Modal sewa tempat di depan Indomart, bayar orang untuk berjualan, trus beli buah-buahan, langsung deh pasang iklan ‘Jus Awet Muda’. Asal inovatif dan pangsa pasar cocok, pasti berhasil” jawabnya.

Selain soal berbisnis, secara pribadi Mbak Elok banyak membantu saya selama berada di kantor. Kita pernah makan siang (walaupun cuma 2 kali sih), pernah pergi liputan bareng (walau beda desk), dan berbicara ngelantur sampe kemana-mana.

Lucunya, saat itu beliau mengajak saya untuk liputan di Hardrock Cafe saat launching album Sandy Sondoro. Tetapi karena beda desk, rencana keluar ini harus diam-diam. Setelah balik ke meja kerja, saya menemukan secarik kertas bertuliskan, “Aku tunggu di lobby dasar ya – Elok”

Akhirnya, saya pun tanpa pamit menyusulnya di lobby. Setelah itu, ditengah derasnya hujan Jakarta dan disertai macet, saya dan Mbak Elok pergi ke Hardrock Cafe. Tapi ternyata esok harinya, kepergian saya tanpa pamit itu disadari oleh banyak karyawan kantor. Salah satunya Sekertaris Redaksi, Mbak Retno.

Beliau menanyakan, ”Kamu kemarin kemana? Lain kali kalau kamu mau pergi bilang dulu. Jangan langsung ngeloyor aja. Seperti yang saya bilang, disini sistemnya kayak orang kerja. Jadi ada aturannya”. Mengalami hal ini saya terpaksa diam dan tertawa sendiri.Yasudahlah, kata saya dalam hati. Hehe.

After all, thank you Mrs. Elok for being nice to me. You are such an inspiration and act like my mom. Hehe. Salam Backpacker Dunia!

I’m Here, It’s Okay!

In eat movies on November 3, 2010 at 4:47 pm

Hi there! Sudah ada yg nonton ini belum? (Yes, I’m talking about Spike Jonze‘s movie, I’m Here). Saat ini, kita bisa nonton via online dengan batasan 5000 pengunjung perhari.

Film pendek ini berdurasi 29 menit.  Sutradara dari Being John Malkovich (1999), Adaptation (2002), Where the Wild Things Are (2009) dan beberapa video musik untuk artis-artis seperti Sonic Youth, Beasty Boys dan Weezer ini berhasil membuat sebuah fabel manis tentang sepotong kehidupan dimana robot dan manusia hidup berdampingan.

Sheldon (Andrew Garfield) adalah robot. Hidup sendiri dan bekerja di sebuah perpustakaan, ia menjalani kehidupan yang boleh jadi terasa membosankan. Namun kita bisa melihat semangat di diri Sheldon, sebuah keinginan untuk keluar dari rutinitas. Sheldon membutuhkan petualangan, atau setidaknya seorang teman. Suatu hari di sebuah tempat pemberhentian bus, Sheldon bertemu Francesca (Sienna Guillory), robot perempuan yang sialnya sedang diteriaki nenek-nenek tua renta, “You can’t drive a car,” sahut sang nenek memarahi Francesca, “you’re not allow to drive a car!” Francesca adalah robot pembangkang, ia tak menghiraukan ocehan sang nenek dan segera tancap gas dengan mobilnya. Sheldon yang kikuk hanya bisa memandang kagum atas keberanian Francesca. Kedua robot itu akhirnya bertemu kembali di kemudian hari, untuk lantas menghabiskan waktu bersama, hingga akhirnya saling jatuh cinta. Tentu saja bukan cinta namanya jika tak ada pengorbanan. Francesca adalah robot yang ceroboh, dan kecerobohannya mengharuskan Sheldon untuk berkorban.

Yuk, nonton bareng! http://www.imheremovie.com/.

 

Attraversiamo!

In Uncategorized on November 3, 2010 at 3:05 pm

Dengan bertuliskan  nama hotel yang kami tempati, si pemilik kaki ini adalah sahabat yang menemani saya menghabiskan waktu di Bandung selama 34 jam. Awalnya kami berniat datang ke sebuah acara festival musik blues yang disponsori oleh suatu pabrik rokok. Namun, dewi fortuna tidak memberikan kesempatan kepada kami untuk datang secara GRATIS. Haha. Sehingga, kami harus menyusun rencana lain. Nggak masalah sih,’ toh kita nggak ngerti blues juga sebenernya..hehe.

Pada awalnya, memang kita hanya ingin ketemuan. Soalnya, hari-hari sebelumnya selalu berakhir dengan kalimat, “Hmm.. next time yah”. Kali ini, hari dimana kita bertekad tidak ada kata BESOK.

Lucunya, apa yang terjadi dengan saya saat ini tidak jauh-jauh dari  apa yang terjadi saat itu 16 Oktober 2010 – 17 Oktober 2010. Sebelum saya cerita lebih jauh ke sesuatu yang kebetulan itu,  pelarian ke Kota Kembang ini membawa banyak pelajaran bagi saya. After all, terimakasih ya Servincia Kamaputri for a lovely random weekend!

***

“Finally Bandung!” begitulah yang terucap dalam hati ketika pandangan mata dari arah  kaca kanan mobil mulai disapa dengan kebun Teh Walini, Bandung. Saya suka kota Bandung. Alasannya cukup simple, udaranya lebih segar dibanding Jakarta. Mungkin karena Bandung jarang ada bus kota dengan asap knalpot yang mengepul. Aduh, kalau kalian pernah ke Terminal blok M, mungkin bernasib sama seperti saya. Menahan nafas lebih baik dibanding harus menghirup asap knalpot yang menyembul dari pintu masuk bus.

Kembali ke topik awal. Ketika di dalam perjalanan ke Bandung, saya menemukan buku ini di balik jok mobil. THE NAKED TRAVELER 2 , karya Trinity. Buku kepunyaan si pemilik sendal ini saya embat hingga ke kamar hotel. Setelah iseng membaca bab pertama buku itu, saya tersenyum melihat tulisan ini, ”When was the last time you did something for the first time?”. Ya, mulailah diri saya bertanya ke diri sendiri seperti itu. Bila itu juga yang nyangkut dikepalamu dan sudah tidak bisa menjawabnya. Berarti jawabannya, kalian harus mulai melakukan sesuatu yang baru (lagi).

Singkat kata, buku ini sangat menarik. Pengalaman menjelajahi dunia bukanlah sekedar mimpi belaka. Jalan-jalan ala backpacker tidak semata-mata hanya pupus ditengah jalan karena masalah faktor U (re: uang). Dari cerita mbak-mbak kantoran yang memiliki passion sebagai backpacker dunia ini, saya jadi tahu lebih banyak, meyakini lebih banyak, dan bermimpi lebih banyak. Toh, ada pepatah mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma”. Hihi..

****

Pemilik sepatu ini sangat inspiratif. Melihat isi blognya membuat saya ingin membuat satu posting-an yang sama dengan konsepnya. If you believe that shoes represents people’s character, you must check out her blog.

It’s amazing! http://www.mykindofperson.blogspot.com/

Saya tidak kenal dengannya. Hmm, jika memang dunia itu sempit, mungkin suatu hari nanti saya bisa bicara langsung dengannya, “Hallo Nasta, saya Astri. Bolehkah sepatuku berpose bareng dengan sepatumu?” Hehhe..

Well, dalam salah satu postingannya, Nasta pernah menulis seperti ini, ” Memang sekali-kali kita perlu keluar dari dunia kita dan melakukan hal-hal yang random” Yup. Selama berada di Bandung, saya dan teman saya melakukan hal-hal yang random. Dari hal mencari makan yang berujung dengan menelfon 14022 sampai akhirnya nonton bioskop di sebuah mall yang  kebetulan bersebelahan dengan hotel tempat kami tinggal.

***

EAT, PRAY, LOVE. Yes, sebuah film karya Ryan Murphy ini akhirnya saya tonton juga. Sama seperti orang Indonesia umumnya,  saya pun digeluti rasa penasaran “Seperti apa negara saya di film sekelas Hollywood yang dibintangi oleh Julia Roberts ini?”

Banyak yang bilang, film ini terlalu membosankan. Ya, mungkin karena tidak ada konflik yang berarti yang disajikan di film ini. Ceritanya standar, tentang penemuan-penemuan jati diri dari sebuah perjalanan. Satu yang cukup menarik adalah ketika ia berhasil memaafkan dirinya sendiri, atas beberapa kegagalan yang dihadapi sebelumya, termasuk kegagalan pernikahannya.  Hmm, tentu alasan saya mengatakan film ini adalah cukup baik ternyata dipertanyakan oleh banyak orang.

Saya tidak mau banyak berkomentar mengapa film ini saya anggap bagus. Selain karena faktor kebudayaannya yang menggelitik, film itu sangatlah… saya.

Well, I wanted to share with you 8 little gems I took home from it. These are all lines from the movie that spoke to me for some reason. My thoughts about each are in the italics.

1. “But who for?” “For you, Liz.”. When buying lingerie, you don’t have to buy it for anyone but yourself. Beautiful things can just be for you. It’s okay to enjoy them da sola.

2. “You must select your thoughts for the day like you do your clothes.” Take control of the words you speak to yourself. Choose them as deliberately as you do your pants and shoes.

3. “God dwells within you, as you.”He is not interested in your performance. He would rather you be a second rate version of yourself than a first rate version of somebody else. You do not need to be anything but who you are, for Him to love you.

4. “Even smile in your liver”. Create a practice of happiness deep down into your organs.

5. “The only way to heal is to trust”. And the only way to trust again is to forgive. Forgiveness of self and others is the door through all of our greatest barriers.

6. “Sometimes to loose balance in love is part of living balance in life.” To recite my favorite line from the Moulain Rouge,”The greatest thing we can ever learn is just to love and be loved in return.” And love  requires sacrifice. But knowing who is worthy of that kind of sacrifice is true wisdom.

7. “Go ahead. Run away from me. But you are running away from all the great possibilities of your life.This is not just the words of handsome Javier Bardem in the film… I think God spends a lot of his time saying kind of the same thing to us.

8. “Attraversiamo.” Let’s cross  over. It’s time to take the risks that will grow us into the people we are destined to be.

***

Hmmm, tidak usah nunggu saya sampai colongan curhat, tentu kalian pernah merasakan saat menonton film sambil cengangas-cengenges sendirian karena film itu jadi buat kalian seperti “ngaca”. Haha.. Now, how about you? What are your thoughts about Eat, Pray, Love, the movie or the book?

Setelah petualangan saya dengan pemilik Sendal Hotel ini secara random, besoknya saya mulai menemukan beberapa kebetulan lainnya. Kebetulan – kebetulan itulah yang membuat saya berfikir bahwa, “Everyday may not be a good one, but there is good in every day”.

Karena, hidup itu penuh misteri. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang kita anggap sebagai kemalangan, justru sebaliknya, adalah keberuntungan. In the mean-time, please sit back, relax and enjoy the ride! Attraversiamo!

Everybody is a teacher: DON’T PANIC!

In Uncategorized on October 31, 2010 at 5:29 am

 

~janbk

BEBERAPA hari ini saya memang terlihat tidak bersemangat menjelang akhir bulan. Menatap agenda saya yang saling bertabrakan waktu, membuat saya terpaksa menyusun to-do-list setiap hari dan setiap jam. Mencoba semua peruntungan yang ada, tetapi ujungnya malah nggak mudah dan melelahkan. Bukannya tidak bersyukur, tetapi ada pada suatu titik dimana kita benar-benar merasa berlebihan telah memaksakan diri. Saya lupa limit saya sebagai manusia dan sebagai mahasiswi semester akhir. I feel like I’m forcing myself too hard 😦

Keadaan ini awalnya memang saya rencanakan pada bulan lalu. Saya terlalu banyak main dan mencari kesenangan adalah nama tengah saya. Yang ada, kesenangan ini lambat laun menjadi monoton karena tidak menghasilkan apa-apa. Saya rindu dengan hal-hal baru yang belum pernah saya kerjakan sebelumnya. Sampai pada akhirnya, kesempatan itu datang dengan sendirinya pada awal bulan Agustus. Dan, mulai saat itu motto hidup berubah menjadi, “Work hard, Pray hard”.

This is it! Oktober is the high stake. Itu kalimat yang pernah saya tulis di akun twitter saya pada tanggal 8 Oktober 2010. Nah, dari sekian kegiatan yang harus dilakukan diakhir bulan, tugas kuliah lah yang paling menyita perhatian. Sulitnya ijin karena alasan pekerjaan tidak membuat dosen menjadi luluh dan memberikan kesempatan pada kita begitu saja. Jadi, mau tidak mau ya berkorban waktu sedikit untuk mengikuti kuliah lalu sehabis itu lanjut menjalankan pekerjaan. Mengeluh pun menjadi bentuk helaan nafas panjang yang tak kian berhenti dari mulut saya.

Di kelas mata kuliah Komunikasi Organisasi, saya bertemu dengan orang ini. Mahasiswa angkatan 2009 yang menjadi korban curhatan saya. Setelah panjang lebar bercerita,  dia pun berkata santai seperti ini..

“Kuncinya adalah jangan panik. Kalau lo panik, maka lo nggak bisa fokus ke aktivitas yang lo kerjakan. Sama seperti lo sedang mencari-cari bolpoint untuk menulis, padahal bolpoint itu tepat berada di depan lo. Tapi karena panik, lo nggak melihat keberadaan bolpoint itu. Jadi, jangan panik”.

Benar juga ya, kalau dipikir-pikir kepanikan itu sebenarnya tidak beralasan. Justru hal itu menjadi pertanda bahwa kinerja kerja kita kian melemah karena takut ini dan takut itu. Saya jadi ingat kalimat favorit yang selalu menguatkan saya, “Don’t Panic! Because, most of them are never happened.”

Semua orang pernah merasakan kepanikan. Ya, berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia, Panik itu berarti:

bingung, gugup, atau takut dng mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dng tenang):

Betapa sering saya “kalah” karena tidak berhasil mengatasi rasa takut. Padahal kalau saja saya bisa mengatasinya , saya bisa jadi pemenang. Seseorang disebut pemenang sejati bukanlah hasil dari pertarungannya melawan musuh, namun justru karena keberhasilannya mengalahkan diri sendiri.

Film ini mengajarkan saya tentang bagaimana mengalahkan ketakutan pada diri sendiri. (Yes, Karate Kid, I’m talking about you). Di film ini, Dre Kecil menolak untuk berakhir di semi final kejuaraan bela diri karena kakinya dihajar secara curang oleh pihak lawan, sedang lawan yang harus dihadapi di final adalah anak yang selama ini ditakuti karena telah menghajarnya berkali-kali dalam kasus bullying. Melihat ia ngotot, Pak Han lalu menanyakan mengapa ia tetap bersikeras mengikuti babak final padahal kalau ia mau berhenti sekarang saja, ia telah kalah terhormat.

Maka jawaban yang tak disangka-sangka keluar dari mulut si kecil, “Karena takut. Saya mau mengatasi rasa takut ini. Saya tidak mau keluar dari pertandingan ini dengan memiliki rasa takut. Apapun hasilnya dari pertandingan ini, saya ingin saya tahu bahwa saya telah mengatasi ketakutan ini.”

Well, semoga kalian yang membaca tulisan ini sudah terbebaskan dari rasa panik yang datang berlebihan. Control your mind, people!

1. bingung, gugup, atau takut dng mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dng tenang): dl situasi bagaimanapun kita tidak boleh –;
ke·pa·nik·an n kegugupan (kebingungan dan ketakutan); kecemasan: kebakaran tadi malam sempat menimbulkan ~ di kalangan penduduk

Terlalu banyak. cinta

In Uncategorized on September 23, 2010 at 4:12 pm

ketika kembali menengok ke belakang

dan semuanya telah dilakukan.

apalagi yang tersisa?

semua usaha, semua cerita. sudah.

saat malam menjelang, rasa sepi selalu mulai datang.

saat mata nyalang, pahit pun mulai menyerang.

terlalu banyak rasa yang tersimpan,

cinta yang entah untuk siapa.

ketika melihat diri yang sekarang

dan semua sudah tercicip.

berbagai macam warna pelangi sudah terlalui

tak ada lagi kejutan yang berarti.

saat hati bimbang, semua memori mulai terulang.

saat butuh pegangan, semua gelisah pun meradang.

terlalu penuh hati,

dengan cinta. yang entah, untuk siapa.

memanggil namanya dengan putus asa dalam kubangan rasa rindu

memanggil namanya dengan lirih bak esok tidak lagi melagu

biru. biru karena rasa yang terus menerus ingin keluar.

tapi ini semua cinta. yang entah, untuk siapa.

***

ditulis di suatu malam oleh Mya Santosa.

pembicaraan getir dua orang yang punya terlalu banyak cinta.

yang entah, untuk siapa.

Penang, Bikin Kepalaku Pening

In Uncategorized on September 15, 2010 at 6:51 pm

~salihguler

Skarang, tanggal berapa sih?

Oh, 15 September 2010. Spesial sih tidak ya. Hanya ingin membagi ini sebagai salah satu penipuan yang kerap kali dibicarakan masyarakat.

Awalnya begini, selagi aktivitas kampus sedang diberhentikan aka libur, maka keharusan bangun siang pun tidak boleh dilewatkan. Kemudian, pagi-pagi sekitar pukul 6, ada dua sms dari teman saya, yang isinya adalah pemberitahuan bahwa email hotmail saya di hack orang. Bukannya menganggap ini sepele, tapi saat itu saya sedang dalam kondisi setengah tidak sadar. Maka, saya memutuskan untuk kembali terlelap.

Tiga menit kemudian, ada telefon masuk dari rekan saya di WWF. Karena signal di dalam rumah saya terhambat, maka mau-tidak-mau saya harus bangun dari tempat tidur dan segera menuju ke arah luar agar bisa mendapat signal yang lebih baik. Perkataannya tidak jauh dari isi sms kedua teman saya itu. “Astri, kamu ada di Penang? Ini aku terima email dari kamu dibilangnya kamu di Penang, kehilangan dompet. Dan dia minta kirim uang..” ujarnya lewat pesawat telfon.

Saking paniknya mendengar berita dari Mbak yang satu itu, tentu saya tidak bisa kembali tidur pulas. Niat mau mengecek kondisi email malah batal karena jaringan internet di rumah saya, mati. Dan masih karena kepanikan tersebut, saya akhirnya meminta tolong untuk mengganti password kepada kedua teman yang memberitahukan saya lewat sms diawal cerita. Mereka berusaha semaksimal mungkin namun tetap saja, hasilnya nihil.

Memang tidak seberapa, tapi yang bikin keki adalah email ini sangat penting untuk hal akademis dan pekerjaan saya. Seluruh kontak ada disitu. Dan, metode penipuan ini mengirimkan berita palsu ke seluruh kontak saya. Itu dia yang buat saya rasanya pusing tujuh keliling.

Eh iya, sebagai pelajaran, berikut saya sertakan pula email yang dikirim ke seluruh kontak saya di Hotmail.

How are you doing? hope all is well, I’m very sorry i could not inform you about my trip to penang, Malaysia for a Conference. ..i need a favor from you as soon as you receive this email, kindly get back to me immediately as i am short of cash right now because i misplaced my wallet (where my money and other valuable things were kept) on my way to the hotel  i want you to assist me with a loan urgently.

I will be glad if you could assist me with $840 to sort-out my hotel bills and get myself back home. i will appreciate whatever you can afford to help me out, i will pay you back as soon as i return. kindly let me know if you can be of help? so that i can send you the details. your reply will be greatly appreciated. Thanks


So people, maaf atas pengiriman email atas nama saya Astri Novaria melalui email im_astrii@hotmail.com. Email tersebut di hack oleh seseorang dan mengubah password akun email saya. Sekali lagi, maaf atas ketidaknyamanannya karena pihak tersebut masih mengirimi ke semua kontak saya dan meminta sejumlah uang.

Pesan moralnya, buatlah selalu back-up data dan berhati-hatilah dengan segala hal mengenai identitas anda sekecil apapun itu.