agastrigi

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

RE-TWEET

In Uncategorized on July 19, 2010 at 1:57 pm

Bagi pengguna twitter yang bijak, aplikasi RT (Retweet) ini dipakai bukan untuk sembarangan membalas setiap tweet orang. Tetapi bagaimana di dalam 140 karakter tersebut bisa dibaca dengan jelas dan tidak ambigu.  Atau, penggunaan RT bisa digunakan sebagai ajang copy-paste bagi yang hendak mengutip suatu pernyataan dari seseorang. Singkatnya, RT itu hanya untuk pesan yang layak untuk di-share ke khalayak.

Banyak sekali quotation-tweet yang bermunculan di timeline twitter saya. Dari yang cinta-cintaan, kata bijak dari film, para filsuf, orang-orang terkenal, dan masih banyak lagi. Semuanya tak ragu untuk klik “Follow”  dan menikmati setiap update-an terbaru dari mereka. Ajaibnya, dengan susunan kata yang secara apik dibawakan oleh para motivator ini, benar-benar mampu memberi power kepada kita yang membacanya. Sehingga tak jarang, bagi mereka yang merasakan hal yang sama suka melakukan RT (retweet).

Menurut saya, dengan hadirnya Twitter, mereka akan terpancing kreatifitasnya dalam menafsirkan segala hal yang ingin disampaikannya hanya dalam 140 karakter saja. Itu dia tantangannya! Nah, berikut ini adalah tweet-tweet bijak yang dengan random saya temukan di dunia per-twitteran. Hehe, Are you one of them? 🙂

“Pemenang itu berarti positif di setiap waktu, bukan menjadi pasien kambuhan.” – Samuel Mulia, Parodi “Pemenang” Kezia Gabriella A.

“You can always cry on my shoulder. It’s waterproof.”Indra Herlambang

“Karena di atas langit masih ada langit, hr ini kita jago, bsk ada yg lebih jago lg, belajar lah bermain musik bukan utk mengejar pujian” 🙂 BarryLikumahuwa

“Before you do something,put yourself in other’s shoes.predict how they’re gonna feel about what you’re gonna do” #selfremindermysantosa

“Enjoy your life, laugh and love like you never been hurt. Happiness will come to you at the right time. ” Gittayunanda

“Jika hidupmu mulai kacau, artinya kita telah salah menyusun prioritas. Coba renungkan lagi mana yang lebih penting.”JED-ReVoLuTiA

“Fight for your dreams, and your dreams will fight for you”paulocoelho


Advertisements

(VIR.GIN.I.TY)

In Uncategorized on July 18, 2010 at 3:48 pm

“Kamu memandang virginity gimana si?”
“Ah biasa aja…”
“Maksudnya?”
“Yah…dibilang penting ya penting, sebagai tanda dia “menjaga diri”, tapi itupun bukan mutlak. Misalnya dia kecelakaan…atau mungkin diperkosa…atau mungkin dia pernah melakukannya dengan pacarnya……atau janda mungkin? Semua punya pertimbangan…”
“Oh…?”
“Misalnya dia diperkosa, aku anggap dia masih virgin. Well, technically…”
“Trus?”
“Yah kecelakaan…tentu aku juga anggap dia masih virgin.”
“Ok, lalu kalau memang dia pernah melakukannya dengan pacarnya?”
“Melakukan apa?”
“Well, make love… …”
“Say it loud and clear, Dear. Retoris, dia punya niat, dia melakukan, yah, aku anggap udah nggak.”
“Trus pandanganmu kalo udah nggak virgin gimana?”
“Maksudnya? Dalam segi apa?”
“Yah, katakan saja, kamu pacaran sama orang yang sudah nggak virgin…apa bakal kamu putusin? Atau bakal… …apa?”
“Yah, pertama aku tanyain dulu…dia nggak virgin kenapa dan kapan…”
“Kapan?”
“Yah, kapan. Maksudnya apakah dia melakukan itu dengan orang lain saat sudah menjadi pasanganku? Atau sebelum itu? Masalah disini masalah kesetiaan, nothing more or less.”
“Jadi intinya… …kamu tetap pertahankan?”
“Tergantung alasannya, perkosaan, kecelakaan, aku tentu nggak peduli. Kalo dia emang pernah ml sama pacarnya, aku nanya lagi…how often, apakah masih bisa dihitung dengan jari tangan? Aku cuma ingin tahu, dia melakukan karena “harus”, kamu tahu sendiri kadang keadaan memaksa, tidak bisa menolak, terlalu sayang… …atau memang udah habit, setiap pacaran, setiap hari, setiap menit…”
“Jadi, kamu lebih mikirin itu sebagai kebiasaan atau sebagai perbuatan yang pernah dia lakukan?”
“”Itu” apa si?”
“Sex, Honey…”
“Say it loud and clear Dear. It’s me. Bukan hal yang tabu untuk dibicarakan kan? Ya, aku lebih berpikir sex itu sebagai kebiasaannya atau lebih ke perbuatan yang pernah dia lakukan…”
“That’s all?”
“Yup.”
“Gimana tentang kesucian?”
“Hahahaha…! Memangnya aku suci?”
“Well, banyak orang berpikir mereka pantas mendapatkan yang ter-suci”
“Yah, mending ngga’ usah ngomongin orang hehe…”
“Iya…”
“Hun…”
“Hm?”
“Aku…”

November 19, 2007

Hmmm..

In Uncategorized on July 18, 2010 at 3:41 pm

..” Humm adalah sebuah jeda waktu, apakah kata itu sangat intimidatif sehingga mampu membuat otakmu berbalik 180 derajat? aku punya sejuta humm , apakah kamu siap untuk menerimanya? aku bisa sisipkan sedikit coklat campur madu bila kamu mau hingga pusingmu memiliki aroma.. hah wanita, sesulit itukah kamu untuk dipahami?”


Is it?..Haah, pria, sesulit itukah kamu untuk memahami. hmm….

Waktu

In Uncategorized on June 29, 2010 at 11:40 am

Apa yang ada dikepalamu jika berbicara tentang waktu? Bagaimana seandainya jika waktu bisa kita hentikan sesaat? Bagaimana mungkin kita merasa bahwa waktu itu seolah berlari? Padahal seperti yang kita ketahui, waktu selalu berjalan konstan. Waktu memiliki tempo detak nadinya sendiri yang membawa kita tidak selalu sama seperti sedetik, semenit, atau sejam yang lalu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Waktu adalah seluruh rangkaian proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan atau kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.

Ya, kita tentu mengenal waktu. Walaupun tidak secara persis 1 tahun terdiri dari 365 hari, tetapi 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 45,1814 detik. Waktu dapat membawa kita kepada momentum yang tercoret abadi di kalender kita, kelahiran, kelulusan, mencoba hal yang serba pertama, ulangtahun, atau juga membawa kita kepada akhir dari waktu itu sendiri — kematian. Waktu juga mengajarkan kita pada kata terlambat, belajar menghormati sepersekian detik yang terkadang kita abaikan, dan terkadang mengenalkan kita pada kata rindu.

Disinilah kita meluangkan 365 hari yang selalu kita rayakan tiap tahunnya. Berharap menjadi manusia yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya untuk mencapai satu target sampai batas waktu yang ditentukan. Kita tidak bisa menciptakan waktu. Karena kalau sudah lewat, ia tidak akan lagi kembali. Begini yang terasa, waktu seolah berlari. Dia tidak lagi setia menunggu kita bersolek di depan kaca sambil berjuta kali mengganti pakaian. Tapi kemungkinan suatu hari nanti, dia akan kembali untuk mengundang kita menari di lantai dansa.

Sekarang sudah bulan ke enam, minggu ke empat, dan hari ke dua puluh sembilan di tahun 2010.  Waktu akan terus berdetak membawa segala perubahan. Dan ini harapan saya, waktu tidak akan pernah memisahkan kita. Karena saat ini saya telah menyapa anda tanpa sapa. Hai, saya Astri. Senang berkenalan dengan anda di waktu ini. Sampai jumpa 🙂

My gift to you, My heart was yours..

In Uncategorized on May 1, 2010 at 7:25 am

cause i’m still in love with the person who helped me write it

Di Dasar Segalanya

In Uncategorized on April 10, 2010 at 6:10 pm

Saya baru saja menyaksikannya kemarin di Theater Salihara. At a Very Bottom of Everything. Film yang bagus, diambil oleh kisah nyata langsung dari sutradaranya Paul Agusta, dan sangat menyentuh. Paul agak sedikit memaksa para penonton untuk mengerti apa yang disampaikan dari film keduanya ini. Tidak hanya ada seorang narator yang tampil di layar (Kartika Jahja) namun ada sebuah penggambaran secara visual, musikal, sistematis yang mendalam oleh lakon aktor dan aktris di dalam film tersebut.

Film ini bertujuan memperkenalkan kepada kita perjuangan seorang perempuan muda yang mengidap bipolar disorder ( dikenal juga dengan sebutan manic depression) dimana dia berjuang untuk melawan dorongan bunuh diri. Kita diajak untuk masuk ke dua dunia yang dimana dia ceritakan secara verbal dan melalui visual agar kita mengeri apa yang terjadi di dalam otaknya (dunia lainnya).

I love the script. Every single words on this movie was great. Enough said. Thanks Paul. *clapping*

The Missing

In Uncategorized on April 9, 2010 at 1:43 am

Saya tidak ingin bercerita panjang lebar mengenai hilangnya Fingkan. Sekarang sudah hari ke empat, lama-lama saya yang harus belajar untuk ikhlas. Yes, that’s my Motorola L-7 hehe. Hilang di bus kopaja 86 jurusan Pondok Indah – kondisi bus penuh sesak – dan tersadar saat tiba di rumah.  Fyi, saya sempat menelfon dan begging2 si maling untuk mengembalikannya kepada saya. Tapi, nihil.

Oke, kalo dikalkulasikan. Henfon itu kalau dijual seharga 100.000: ga tahan lama batrenya,  chasing yang baret-baret, chasing yang sulit dicari, dan saya beri unlock code di beberapa application. It means, saya bukan mendambakan henfon itu karena harganya. Tapi memorinya.

Sedikit mengenang fingkan:

– Seminggu setelah beli handphone itu, jatoh ke kloset kamar mandi Gonz di saat graduation. Dan, paniknya saya disaat menjelang UAN masih ngurus ‘biaya rawat inap’ Fingkan yang masuk ke reparasi motorola.

– Beruntunglah, henfon tersebut masih bisa diselamatkan walau ada white-mark di bagian kanan LCD (padahal kasusnya nyemplung)

– Sms dari jaman dahulu kala bersama A masih tersimpan. Hehe, forgive myself for breaking the rule, i  don’t want erase them all 😦

Okay, Think Possitive Now, A! :

– Bertepatan sekali dengan saya yang telah mendapatkan kerjaan di Kompas untuk sementara waktu. Lambat laun, rejeki bisa membeli my dream cellphone with my own effort. wish me luck, guys 🙂

– Kata Vinci, “Maybe Fingkan wants you to move on!”

– Kata Anits, ” I think behind this cellphone-losing pasti ada tujuannya.. God wants you to move on. you don’t want to stir things, God will stir it for you.. sometimes we have to learn the hard way when we’re being stubborn, stri..”

PS: I miss you, FINGKAN. I MISS EVERYTHING ON IT. And you know, I miss you, too.

Tubuhnya membiru. Tragis.

In Uncategorized on April 2, 2010 at 5:58 pm

Seorang kawan lama, tiba-tiba datang menemui saya menceritakan kesulitan hidup yang dialaminya. Dia mengabarkan dirinya tidak lagi tinggal dirumahnya. Jauh dari kehidupan dirinya yang saya kenal baik-baik saja namun ternyata air mata menggambarkan semuanya dari sudut matanya yang tegar. Oke, saya mengerti.

Dia menunjukkan bekas luka memar pada tubuhnya yang disebutkannya baru saja berlangsung 3 hari yang lalu. Masih memerah, masih nyata dan saya begitu jelas merasakan sakitnya. Saya biarkan dia berbicara selama kurang lebih 1 setengah jam.

Hingga malam larut dan saya lupa untuk pulang ke rumah. Baru kali ini saya mengerti dan bersikap pro terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga. Selama ini yang terlintas di pikiran saya adalah bodoh saja mereka yang bisa bertahan dalam situasi yang jelas2 merugikan dirinya. Bertahan dalam kubik yang mereka sebut itu rumah namun suasana yang tidak jauh dari neraka. Menelan manis dari setiap kepahitan. Dan berkali-kali memperingatkan pikiran agar berteman dengan hati. Ini berarti, ia selamat.

Satu pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan, namun telah terjawab ” Kenapa bisa bertahan dalam situasi seperti ini? Tinggal datang saja ke komnas HAM lalu mengadu!”

Itu dia. Dia tahu persis pasal-pasal mengenai HAM yang bisa menggiringnya merebut kembali hak-haknya. Dia dapat dengan mudah melapor tanpa hambatan apapun. Tetapi seseorang yang berbuat kekerasan padanya justru yang memiliki jabatan penting yang kita sebut pihak yang berwajib. , ” Kalau aku lapor, itu berarti semua orang akan tahu yang apa yang terjadi. Itu sama aja mencoreng nama keluarga sendiri. Apalagi status pekerjaan mama yang bukan orang biasa

Satu luka di punggung yang tak sempat diurut akibat pukulan gantungan baju di pagi-pagi buta; cacian murahan yang sering dilontarkan setiap hari; perbedaan nyata antara sahabatku dengan kedua adiknya; kehadiran ayah yang selalu mengalah dengan istrinya; dan masih banyak lagi..

Pilihannya tidak lagi seperti hitam dan putih atau baik dan buruk. Keduanya terlihat sama. Sahabatku, dia memilih untuk tidak memilih hingga detik ini.

Entah sampai kapan.

Dua puluh dua tahun ia merasakan semua ini. Entah sampai kapan seorang manusia tega berbuat kekerasan dalam mendidik seorang anak. Entah sampai kapan seorang anak harus di dera untuk menjaga nama baik ibunya dan kelurganya. Entah sampai kapan..

“America is not bad, k?”

In Uncategorized on April 2, 2010 at 5:47 am

Hari kamis kemarin setelah pulang dari gereja dan merayakan Kamis Putih, mobil  kembali melaju ke arah kemang hendak membeli beberapa ayam di KFC. Malam itu, sudah pukul 11 dan terutama saya yang sudah sedari tadi meraung-raung belum makan siang ditambah mesti kebagian jadi seksi dokumentasi di gereja.

TOO CROWDED. Damn long weekend. Sepanjang jalan kemang raya banyak anak-anak bermuka polos yang berdandan seperti layaknya orang dewasa berdiri bersenderan di cap mobil – entah mobil keberapa orang tuanya.  Club malam – Kemang hari itu penuh dengan para ABG sedang menikmati liburan long weekend-nya yang sebenarnya baru saja dimulai.

Kota ini selalu membuat saya terkesan dengan manusia-manusianya. Nah, setelah sampai di KFC dan mendapatkan 4 jatah ayam buat orang rumah plus chicken cream soup untuk di makan di mobil, sembari memberi ‘Pertolongan Pertama’ karena telat makan.

Sesampainya dimobil, tepat didepan hadapan saya ada beberapa anak jalanan yang sedang duduk-duduk entah apa yang mereka hendak lakukan. “Kita diem sebentar yah” begitu kata kakakku setelah saya tanya alasannya tidak beranjak dari KFC. Sepuluh menit berlalu, dua orang warga asing menghampiri mereka dengan membawa 1 mangkok besar ala khas KFC yang berisi ayam dan nasi di dalamnya.

Salah satu warga asing yang berwarga negara Amerika memotret mereka semua bersama temannya yang berwarga negara Thailand.

“Okay, this is for you all. Jangan berebut, okay?” ujarnya dengan aksen bule-nya.

Anak-anak jalanan tersebut kemudian menghampiri si Pria bule Amerika ini dan menyalaminya satu persatu.

“America is not bad. Me is American and She’s Thailand. We’re not bad, okay?” kembali ucap Pria bule itu dan disambung oleh temannya dan mengatakan “Nice to meet you all”.

Setelah menyaksikan itu, saya mulai beranjak pulang dan bertanya-tanya. Kata-kata yang diucapkan si Pria Bule — anak-anak jalanan yang diminta duduk untuk menunggu kemudian dibelikan KFC. Apapun motivasinya, mereka orang baik. Kedua warga asing tersebut — baik.

Sekarang bukan jamannya men-judge orang hanya karena SARA. Dari mana mereka berasal, apa agamanya, dari suku mana. Tidak ada pengkotak-kotakan selama saya dan yang lain bernafas sama-sama melalui hidung, berpijak di bumi yang sama dan dibawah langit yang sama.

Yes, America – Indonesia – Thailand and other countries were not bad. Yang nyata adalah orang baik dan orang jahat selalu ada di dalamnya.  Keep your mind wide open, kind people!

Alrighty, now Happy Good Friday! God bless us monday to sunday! ciao.

Klise.

In Uncategorized on March 23, 2010 at 4:27 pm

“Tenang saja, semua akan baik-baik saja”

“Santai kayak di pantai”

“Wolesss”

Dari kesekian kalimat yang telah saya sebutkan tadi, mulai dari bahasa Indonesia yang apik sampai bahasa slenk semuanya sudah mengarah ke suatu hal yang biasa diucapkan. Bahkan, kebanyakan dari kita menganggap hal yang klise ini malah masuk ke kuping kiri keluar kuping kanan. Mungkin, karena keraguan kita karena arahnya tidak jelas dan tidak akurat. Ah, klise! Berdasarkan apa?

Dan ternyata, Si Klise inilah yang punya words of magic buat bikin kita percaya pada sesuatu hal yang sesungguhnya memang benar adanya. Sesuatu menjadi klise pasti beranjak dari sebuah fakta. Fakta yang membuktikan, bahwa sesuatu itu bisa terjadi tidak seperti yang kita pikirkan sebelumnya.

Oke, mari kita belajar dari kalimat-kalimat klise yang telah lama kita abaikan sebelumnya. Dan terkadang, jika sesuatu yang klise ini datang padamu.. just take it slow, and ask your self “Are you taking life too seriously?”

Because, there’s nothing to worry about. Read the instruction, and you win.